JAMBI — BMKG mencatat tiga kelompok wilayah dengan tingkat kemunduran berbeda. Sekitar 55 persen wilayah Provinsi Jambi diprediksi mundur sampai tiga dasarian, sementara 36 persen wilayah mundur dua dasarian, dan 9 persen sisanya mundur satu dasarian dari kondisi normal.
Darmadi menyampaikan angka-angka itu dalam press release Prediksi Awal Musim Hujan 2026/2027 Provinsi Jambi. Menurutnya, musim hujan di Jambi tidak akan mulai secara bersamaan di seluruh daerah.
Empat Zona Musim Mulai Hujan Akhir Oktober 2026
Pada dasarian ketiga Oktober 2026, awal musim hujan diprediksi tiba di empat Zona Musim (ZOM) atau sekitar 37 persen dari total 11 ZOM di Provinsi Jambi. Wilayah itu meliputi sebagian besar Kabupaten Tanjung Jabung Barat, sebagian besar Tanjung Jabung Timur, Kabupaten Muaro Jambi, Kota Jambi, Kabupaten Batanghari, sebagian besar Sarolangun, sebagian kecil Merangin, sebagian besar Tebo, dan Kabupaten Bungo.
Empat ZOM yang mulai lebih dulu itu terkonsentrasi di bagian timur dan tengah provinsi. Pola ini membuat warga di kawasan tersebut perlu menyiapkan lahan dan aktivitas harian lebih awal dibanding daerah lain.
Tujuh Zona Musim Baru Masuk November 2026
Awal musim hujan untuk tujuh ZOM atau sekitar 63 persen wilayah Provinsi Jambi diprediksi baru terjadi pada dasarian pertama dan kedua November 2026. Cakupannya adalah sebagian kecil Tanjung Jabung Barat, sebagian kecil Tanjung Jabung Timur, sebagian kecil Sarolangun, sebagian besar Merangin, sebagian kecil Bungo, Kabupaten Kerinci, dan Kota Sungai Penuh.
“Sekitar 55 persen dari wilayah Provinsi Jambi diprediksi mundur sampai tiga dasarian,” tutur Darmadi, Selasa 29 September 2026.
Wilayah Kerinci dan Sungai Penuh yang berada di dataran tinggi masuk kelompok paling akhir. Sebagian besar Merangin juga baru menerima hujan pada periode yang sama.
Mengapa Musim Hujan Datang Bertahap?
Perbedaan waktu awal musim hujan antarzona musim menunjukkan hujan di Provinsi Jambi akan dimulai secara bertahap. Darmadi menyebut informasi prediksi ini diharapkan menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah daerah dan masyarakat dalam perencanaan di berbagai sektor yang berkaitan dengan kondisi iklim dan curah hujan.
Bagi petani, mundurnya awal musim hujan berarti jadwal tanam perlu digeser mengikuti perkiraan curah hujan di zona masing-masing. Pemerintah kabupaten dan kota juga dapat memakai data ZOM ini untuk menyusun kalender tanam, kesiapan irigasi, hingga antisipasi kekeringan pada periode peralihan.
BMKG membagi prediksi berdasarkan 11 ZOM di Provinsi Jambi. Pembagian itu memungkinkan setiap daerah membaca perkiraan waktu hujan sesuai posisinya, bukan memakai satu patokan seragam untuk seluruh provinsi.