JAMBI — Pemantauan di Bandara Sultan Thaha menunjukkan jarak pandang bergerak naik-turun sejak pagi. Pada pukul 06.00 WIB, visibilitas tercatat 1.000 meter, lalu turun ke 800 meter setengah jam kemudian. Angka itu menjadi titik terendah sepanjang pemantauan hari tersebut.
Memasuki pukul 07.00 WIB, jarak pandang kembali naik ke 1.000 meter dan bertahan hingga pukul 08.00 WIB. Perbaikan yang lebih signifikan baru terlihat pada pukul 08.30 WIB ketika visibilitas menyentuh 1.400 meter.
Satu jam berselang, angka itu kembali naik menjadi 2.000 meter. Pada pukul 10.00 WIB, jarak pandang tercatat 2.500 meter, sebelum akhirnya mencapai 2.800 meter pada pembaruan pukul 11.00 WIB.
Fluktuasi jarak pandang menjadi indikator utama yang dipantau otoritas bandara di tengah kiriman asap karhutla. Semakin rendah visibilitas, semakin besar risiko bagi pilot saat lepas landas maupun mendarat.
Meski sempat terjadi penurunan jarak pandang, operasional penerbangan di Bandara Sultan Thaha belum terdampak. Aktivitas penerbangan masih berlangsung seperti biasa.
"Untuk saat ini belum ada penerbangan yang terdampak kabut asap," kata Ardon Marbun, Selasa 6 Oktober 2026.
Pernyataan itu menegaskan bahwa penurunan visibilitas pagi tadi belum sampai pada ambang yang memaksa otoritas menunda atau mengalihkan jadwal penerbangan.
Kabut asap menyelimuti Kota Jambi sejak pagi. Kondisi ini berulang terjadi setiap kali karhutla di sekitar wilayah provinsi memuncak, terutama pada musim kemarau.
Data pemantauan jarak pandang di Bandara Sultan Thaha menjadi acuan utama untuk menilai seberapa pekat asap yang menyelimuti kota. Perbaikan menuju siang menunjukkan kondisi udara berangsur membaik setelah sempat memburuk pada dini hari.
Otoritas bandara belum merilis pernyataan lanjutan soal potensi gangguan penerbangan pada jam-jam berikutnya.