Stunting Anak di Muaro Jambi Naik, Kader Posyandu Diperkuat

Penulis: Ahmad Syukri  •  Senin, 05 Oktober 2026 | 14:06:31 WIB
Kader Posyandu mengikuti pelatihan penguatan kapasitas di Kantor Desa Kasang Lopak Alai, Kecamatan Kumpeh Ulu, Kabupaten Muaro Jambi.

JAMBI — Prevalensi stunting di Kabupaten Muaro Jambi naik dari 12,5 persen menjadi 18,3 persen berdasarkan SSGI 2024. Sebanyak 40 kader Posyandu dari empat desa di Kecamatan Kumpeh Ulu mengikuti pelatihan penguatan kapasitas agar edukasi gizi dan deteksi dini sampai ke tingkat keluarga.

Pertamina EP Jambi Field menggelar Pelatihan Kader Tangguh bertema Penguatan Kecakapan Kader Posyandu untuk Mewujudkan Keluarga Sehat Bebas Stunting. Kegiatan berlangsung 29–30 September 2026 di Kantor Desa Kasang Lopak Alai, Kecamatan Kumpeh Ulu, Kabupaten Muaro Jambi.

Pelatihan ini bagian dari program GERAK BERSANDING, Gerakan Keluarga Berdaya dan Anak Sehat Anti Stunting. Empat desa mengirimkan masing-masing 10 kader: Lopak Alai, Kasang Lopak Alai, Sungai Terap, dan Kota Karang.

Mengapa Kader Posyandu Jadi Kunci

Pencegahan stunting tidak berhenti di pemenuhan gizi. Pemantauan tumbuh kembang anak, kesehatan ibu, edukasi keluarga, sanitasi, sampai deteksi dini faktor risiko semuanya masuk dalam satu rangkaian.

Kader Posyandu berada di titik terdepan karena berinteraksi langsung dengan ibu hamil, ibu menyusui, bayi, balita, dan keluarga di lingkungan tempat tinggal mereka. Dari merekalah informasi kesehatan pertama kali sampai ke rumah-rumah.

Kurniawan Triyo Widodo, Field Manager Pertamina EP Jambi, menyampaikan bahwa Posyandu merupakan titik terdekat masyarakat dalam memperoleh informasi dan layanan kesehatan.

"Peningkatan kapasitas kader diharapkan dapat memperkuat kemampuan mereka dalam memberikan edukasi, melakukan pemantauan, serta mengenali faktor risiko kesehatan sejak dini," ujarnya.

Materi yang Diterima Kader

Pelatihan dirancang agar kader mampu menjalankan pelayanan kesehatan secara lebih menyeluruh. Peserta mendapat materi pengelolaan dan pelayanan dasar Posyandu, termasuk peran kader, kelembagaan, alur pelayanan, dan jenis layanan dasar kesehatan.

Kader juga dibekali pemahaman Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) yang memakai pendekatan siklus hidup. Artinya, kader tidak hanya melayani bayi dan balita, tetapi juga ibu hamil, anak usia sekolah, remaja, usia produktif, hingga lansia.

Materi "Kader Siaga: Deteksi Dini dan Respons Pertama pada Kondisi Darurat Ibu dan Anak" disampaikan dokter dari Pertamina EP Jambi melalui sesi berbagi. Kader dilatih mengenali kondisi darurat dan mendorong rujukan ke tenaga kesehatan.

Tenaga kesehatan dari Puskesmas Muara Kumpeh dan Puskesmas Kasang Pudak mengisi materi sesuai kebutuhan wilayah. Pelatihan ditutup dengan praktik agar materi langsung bisa diterapkan di Posyandu.

Respons Tenaga Kesehatan dan Kader

Kepala Puskesmas Muara Kumpeh, Fadilah, menilai pelatihan Posyandu ILP ini mudah dipahami dan langsung bisa diterapkan di lapangan. Pengetahuan yang didapat diharapkan segera ditularkan ke kader lain.

"Semoga Posyandu di wilayah kita semakin aktif dan mampu memberikan pelayanan yang optimal untuk ibu dan balita. Terima kasih untuk penyelenggara," ujarnya.

Fadilah menambahkan, pelatihan ini mengedukasi masyarakat tentang 5 langkah Posyandu dan skrining kesehatan. Ia berharap cakupan kunjungan Posyandu meningkat dan angka stunting bisa diturunkan bersama.

Kader Posyandu Desa Kota Karang, Sri Rahayu, mengakui pelatihan ini menambah bekal mereka dalam mendampingi keluarga. Kurniawan berharap pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti setelah pelatihan, tetapi diterapkan dalam kegiatan Posyandu dan pendampingan keluarga.

Yang Perlu Ibu Pantau di Posyandu

Bagi ibu dengan bayi dan balita, ada beberapa hal yang sebaiknya rutin dicek saat datang ke Posyandu. Pertama, berat badan dan tinggi badan anak setiap bulan untuk melihat laju pertumbuhannya.

Kedua, lingkar lengan atas (LILA) pada ibu hamil untuk mendeteksi risiko kekurangan energi kronis. Ketiga, kelengkapan imunisasi dasar sesuai jadwal.

Keempat, konsultasi MPASI dan asupan gizi harian anak. Kelima, kebersihan lingkungan dan akses air bersih di rumah, karena sanitasi berpengaruh besar terhadap risiko infeksi berulang yang menghambat pertumbuhan.

Jika berat badan anak tidak naik dua bulan berturut-turut, anak terlihat lemas, atau sering diare, segera konsultasikan ke puskesmas. Kader Posyandu kini dibekali kemampuan mengenali tanda-tanda itu dan membantu merujuk ke tenaga kesehatan.

Penguatan kapasitas kader Posyandu di Kumpeh Ulu menunjukkan bahwa upaya menekan stunting butuh kolaborasi banyak pihak: tenaga kesehatan, kader, keluarga, pemerintah, dan dunia usaha. Semakin aktif ibu membawa anak ke Posyandu, semakin cepat risiko pertumbuhan terdeteksi dan ditangani.

Reporter: Ahmad Syukri
Sumber: beritajambi.co This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top