JAMBI — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan hujan turun di 12 wilayah Indonesia pada Minggu (4/10), dengan sejumlah daerah berpotensi mengalami hujan lebat hingga sangat lebat. Prakiraan ini muncul di tengah dominasi curah hujan kategori rendah yang mencakup 79,65 persen wilayah Indonesia pada Dasarian I Oktober 2026. Meski Monsun Australia menguat dan menekan potensi hujan, gelombang atmosfer tetap aktif memicu pembentukan awan hujan di sejumlah wilayah.
BMKG merilis daftar daerah yang berpotensi diguyur hujan pada Minggu (4/10) melalui laman resminya, Jumat (2/10). Sejumlah provinsi masuk kategori hujan lebat hingga sangat lebat, sementara wilayah lain hanya berpotensi hujan dengan intensitas lebih ringan.
Prakiraan ini sekaligus menegaskan bahwa kondisi kering masih berpotensi berlanjut di banyak wilayah. BMKG mencatat sekitar 79,65 persen wilayah Indonesia berada pada kategori curah hujan rendah (0-50 mm/dasarian) sepanjang Dasarian I Oktober 2026.
BMKG membagi wilayah berpotensi hujan ke dalam dua tingkat intensitas. Tujuh daerah diprakirakan hanya mengalami hujan tanpa kategori lebat, sedangkan lima daerah lain berpotensi hujan lebat hingga sangat lebat.
Daerah dengan potensi hujan lebat hingga sangat lebat meliputi:
Sementara daerah dengan potensi hujan tanpa kategori lebat meliputi:
Gelombang Rossby Ekuatorial diprakirakan aktif melintasi sebagian wilayah Sumatera. Gelombang Kelvin juga diprediksi aktif di sebagian Sumatera bagian tengah, Kalimantan bagian utara, Sulawesi bagian utara, dan Maluku Utara.
Di sisi lain, Monsun Australia diprakirakan menguat dalam beberapa hari ke depan. Penguatan sistem ini meningkatkan aliran timuran di wilayah Indonesia bagian selatan dan cenderung membatasi suplai uap air.
BMKG menilai pembentukan awan hujan tetap dapat meningkat di wilayah yang masih dipengaruhi gelombang atmosfer. Faktor pendukungnya meliputi suhu muka laut yang relatif hangat serta terbentuknya daerah konvergensi, perlambatan, dan belokan angin.
"Interaksi faktor-faktor tersebut dapat memicu hujan secara lokal, meskipun secara umum penguatan Monsun Australia masih mendukung kondisi yang relatif lebih kering di Indonesia bagian selatan," jelas BMKG dalam laman resminya, Jumat (2/10).
Selain kategori rendah, BMKG mencatat sekitar 19,99 persen wilayah Indonesia masuk kategori curah hujan menengah (50-150 mm/dasarian). Hanya sekitar 0,36 persen wilayah yang berada pada kategori tinggi (150-300 mm/dasarian).
Dominasi kategori rendah menunjukkan periode tanpa hujan berkepanjangan masih berpotensi berlanjut di sejumlah wilayah. Masyarakat di daerah rawan kekeringan diminta tetap memantau perkembangan informasi cuaca dari BMKG.
BMKG juga merilis daftar daerah yang berpotensi mengalami angin kencang pada periode yang sama. Tujuh provinsi masuk dalam daftar ini, tersebar dari Jawa hingga Papua.
Warga di wilayah tersebut disarankan mewaspadai potensi angin kencang, terutama bagi pelaku aktivitas luar ruang dan transportasi laut. BMKG memperbarui prakiraan cuaca secara berkala melalui kanal resminya.