TANJUNG JABUNG TIMUR — Dapur SPPG Rantau Indah di Kecamatan Dendang dibangun dengan investasi ratusan juta rupiah. Peralatan memasaknya lengkap, sudah lolos verifikasi, dan terdaftar di Portal Badan Gizi Nasional. Namun hingga kini belum ada jadwal operasional dari BGN.
Naharuddin menyebut dapur tersebut seharusnya memasak untuk ribuan siswa setiap hari. Rantai pasok dari petani dan peternak lokal pun sudah disiapkan. "Data kami, Tanjab Timur termasuk angka stunting tertinggi di Jambi. Ini sangat serius. Anak-anak kita butuh makan bergizi sekarang, bukan tahun depan," katanya.
Data Dinas Kesehatan mencatat prevalensi stunting Tanjab Timur masih di atas 20 persen. Angka itu menempatkannya sebagai yang tertinggi kedua di Provinsi Jambi.
Kecamatan Dendang, Rantau Rasau, Mendahara, dan Sadu menjadi kantong stunting. Faktor ekonomi dan akses gizi yang terbatas disebut sebagai penyebab utama di wilayah-wilayah tersebut.
Naharuddin mengaitkan kondisi itu dengan program MBG yang digagas Presiden Prabowo. "Kalau dapur yang sudah siap saja tidak dioperasikan, bagaimana mau turunkan stunting?" ujarnya.
Jika seluruh SPPG di Tanjab Timur beroperasi, setiap dapur akan menyalurkan ribuan porsi per hari. Sasaran penerimanya mencakup siswa SD, SMP, balita stunting, ibu menyusui, dan lansia.
Rantai pasok dari petani dan peternak lokal sudah disiapkan untuk mendukung operasional tersebut. Namun tanpa jadwal dari BGN, seluruh persiapan itu belum bisa berjalan.
Ratusan tray makanan, kompor besar, dan ompreng yang sudah dibeli kini hanya tersimpan di dalam dapur. Peralatan itu belum pernah dipakai untuk produksi.
Naharuddin meminta Presiden Prabowo, Kepala BGN, dan pihak terkait segera turun tangan. Menurutnya, birokrasi tidak boleh menjadi alasan anak-anak Tanjab Timur terus hidup dengan risiko stunting.
"Kami mohon Bapak Presiden, Kepala BGN, seluruh pihak terkait turun tangan. Jangan biarkan anak-anak Tanjab Timur tetap stunting hanya karena birokrasi. Operasikan segera SPPG kami yang sudah siap 100%," ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak BGN belum memberikan keterangan resmi.