Nilai Tukar Rupiah di Jambi Terpantau Melemah ke Level Rp17.646 per Dolar AS Akibat Geopolitik Timur Tengah

Penulis: Ahmad Syukri  •  Senin, 07 September 2026 | 13:22:01 WIB
Rupiah di pasar keuangan Jambi melemah 4 poin ke level Rp17.646 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Senin.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali berada di bawah tekanan, melemah 4 poin ke level Rp17.646 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Senin. Pelemahan ini dipicu meningkatnya tensi geopolitik Timur Tengah yang mengangkat indeks dolar AS dan harga minyak mentah dunia, memberikan efek berantai pada perekonomian Indonesia.

JAKARTA — Pergerakan nilai tukar rupiah di pasar keuangan Indonesia kembali menunjukkan tren negatif pada pembukaan perdagangan Senin. Berdasarkan data pasar, rupiah melemah 4 poin atau 0,02 persen menjadi Rp17.646 per dolar AS dibandingkan penutupan pekan lalu di level Rp17.642 per dolar AS. Kondisi ini menjadi perhatian pelaku usaha di daerah, termasuk di Jambi, yang bergantung pada stabilitas kurs untuk aktivitas impor dan ekspor.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyebut pelemahan rupiah kali ini tidak terlepas dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Situasi tersebut mendorong penguatan indeks dolar AS dan melonjakkan harga minyak mentah dunia, yang pada akhirnya menekan nilai tukar mata uang negara pengimpor minyak seperti Indonesia.

Harga Minyak WTI dan Brent Naik, Kebutuhan Dolar Untuk Impor Membengkak

Ibrahim menjelaskan, harga minyak mentah acuan dunia saat ini berada di level yang tinggi. West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di kisaran 91,92 dolar AS per barel atau setara Rp1,62 juta, sementara Brent berada di level 96,55 dolar AS per barel atau setara Rp1,70 juta per barel.

“Permintaan untuk impor minyak dengan harga yang lebih mahal membuat pemerintah harus mempersiapkan dolar yang cukup banyak. Sehingga wajar kalau dalam transaksi pagi ini rupiah mengalami pelemahan,” ujar Ibrahim kepada ANTARA di Jakarta, Senin.

Gangguan Penerbangan Akibat Gunung Anak Krakatau Turut Dibayangi Pasar

Dari dalam negeri, pelaku pasar juga mencermati aktivitas Gunung Anak Krakatau yang berdampak pada penutupan sejumlah rute penerbangan. Meski tidak terlalu signifikan, gangguan ini tetap menjadi indikator yang mempengaruhi kegiatan ekonomi nasional.

“Kita lihat bahwa penerbangan dari tanggal 6 sampai tanggal 7 masih ditutup,” tutur Ibrahim menambahkan. Selain itu, pasar menantikan rilis sejumlah data ekonomi domestik, termasuk perkembangan cadangan devisa, penjualan eceran, dan indeks keyakinan konsumen.

Data Tenaga Kerja AS Lebih Kuat dari Prediksi, The Fed Berpeluang Naikkan Suku Bunga

Dari eksternal, Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menilai data tenaga kerja Amerika Serikat yang dirilis pekan lalu menjadi katalis penguatan dolar AS. Nonfarm payrolls AS meningkat signifikan sebesar 162 ribu pada Agustus 2026, jauh melampaui ekspektasi pasar yang hanya memperkirakan 55 ribu.

“Data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan tersebut meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga kebijakan menjadi sekitar 60 persen, dari sebelumnya 50 persen, sehingga mendukung penguatan dolar AS,” ujar Josua. Dengan tingkat pengangguran yang tetap stabil di 4,1 persen, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan September mendatang semakin terbuka lebar.

Prediksi Pergerakan Rupiah Hari Ini

Josua memperkirakan nilai tukar rupiah pada perdagangan Senin ini akan bergerak fluktuatif dengan rentang support dan resistance di kisaran Rp17.600 hingga Rp17.725 per dolar AS. Pasar akan terus memantau perkembangan geopolitik dan sinyal kebijakan moneter dari bank sentral AS.

Reporter: Ahmad Syukri
Sumber: jambi.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top