JAKARTA — Tekanan terhadap rupiah berlanjut seiring memanasnya kembali konflik geopolitik di Timur Tengah. Berdasarkan data penutupan perdagangan Rabu, kurs rupiah melemah 0,19 persen dari posisi sebelumnya Rp 17.980 per dolar AS. Pergerakan ini terjadi setelah Komando Pusat AS (Centcom) mengumumkan dimulainya serangan terhadap Iran sebagai respons atas serangan Teheran terhadap pelayaran komersial.
Eskalasi ini memperparah ketidakpastian di jalur pelayaran strategis Selat Hormuz. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menyebutkan bahwa kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak kembali menguat setelah Iran dilaporkan menyerang kapal-kapal yang melintasi selat tersebut pekan ini.
“Babak permusuhan terbaru berpotensi merusak kesepakatan, dengan pembicaraan perdamaian di masa depan antara kedua negara kini tampak tidak pasti,” ujar Ibrahim dalam keterangan tertulisnya, Rabu.
Sentimen negatif juga datang dari pasar obligasi. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik 5,5 basis poin ke level 4,525 persen. Kenaikan ini biasanya mendorong investor asing untuk menarik modal dari negara berkembang seperti Indonesia.
Meskipun pasar ragu terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada Juli, probabilitas kenaikan pada September kini mendekati 60 persen berdasarkan alat pantau CME FedWatch Tool. Para pelaku pasar saat ini menanti notulen rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) Juni yang akan dirilis Kamis dini hari WIB.
Bank Indonesia mencatat kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) juga bergerak melemah ke level Rp 18.005 per dolar AS pada hari yang sama, dibandingkan posisi sebelumnya Rp 17.988 per dolar AS. Pelemahan ini menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap nilai tukar masih berlanjut dalam jangka pendek.