Tanpa Migas dan Batu Bara, Ekonomi Cabo Verde Justru Lebih Kaya dari Indonesia—Pariwisata Jadi Kunci

Penulis: Ahmad Syukri  •  Senin, 06 Juli 2026 | 23:51:31 WIB
Cabo Verde berhasil tingkatkan ekonomi tanpa migas dan batu bara melalui sektor pariwisata.

JAMBI — Negara berpenduduk hanya 520.000 jiwa—lebih kecil dari Kota Bogor—ini membuktikan bahwa keterbatasan sumber daya alam bukanlah penghalang untuk tumbuh. Bank Dunia mencatat, hanya sekitar 10 persen daratan Cabo Verde yang bisa ditanami karena kondisi kering. Sumber daya mineralnya pun minim. Namun, transformasi ekonomi sejak 1990-an mengubah segalanya.

Pariwisata Jadi Mesin Pertumbuhan, 1,18 Juta Turis Serbu Negara Kepulauan

Cabo Verde mengandalkan sektor jasa, terutama pariwisata, sebagai motor utama. Pada 2024, lebih dari 1,18 juta wisatawan mancanegara berkunjung—dua kali lipat jumlah penduduknya. Sektor ini kini menyumbang sekitar seperempat dari total PDB negara.

Meski demikian, ketergantungan pada pariwisata menyisakan masalah. Selama bertahun-tahun, Cabo Verde bergantung pada diesel impor untuk pembangkit listrik. Biaya energi pun rentan terhadap fluktuasi harga minyak dunia, membebani rumah tangga dan bisnis, serta menggerus daya saing pariwisata.

Blue Economy: Strategi Lepas dari Ketergantungan Impor Energi

Untuk keluar dari jebakan energi mahal, pemerintah meluncurkan strategi blue economy pada 2020 melalui Blue Economy Policy Charter. "Lautan kami bukan hanya realitas geografis, tetapi peluang terbesar yang kami miliki," tulis Perdana Menteri José Ulisses Correia e Silva dalam artikel di Brookings Institution, Februari 2026.

Meski daratannya hanya 4.000 kilometer persegi, zona ekonomi eksklusif (ZEE) Cabo Verde mencapai lebih dari 700.000 kilometer persegi. Negara ini ingin memaksimalkan potensi lautnya dengan mengembangkan akuakultur berkelanjutan, menjadi hub maritim yang menghubungkan Afrika, Eropa, dan Amerika, serta membangun jaringan energi terbarukan dan kabel komunikasi bawah laut.

Debt-for-Climate Swap: Portugal Bantu Biayai Proyek Energi Bersih

Ambisi besar ini membutuhkan dana besar. Cabo Verde pun mengembangkan skema pendanaan inovatif: debt-for-climate swap. Portugal setuju mengalihkan sebagian pembayaran utang Cabo Verde menjadi investasi iklim. Dana tersebut digunakan untuk membiayai proyek energi terbarukan, konservasi laut, dan adaptasi perubahan iklim.

Bagi José, keberlanjutan laut bukan sekadar agenda lingkungan. "Keberlanjutan laut bukan kemewahan lingkungan, melainkan kepentingan ekonomi dan tanggung jawab moral," ujarnya.

Dengan strategi ini, Cabo Verde membuktikan bahwa negara kecil tanpa migas pun bisa mencatatkan pendapatan per kapita di atas Indonesia—asalkan berani bertransformasi dan memanfaatkan satu-satunya sumber daya yang melimpah: laut.

Reporter: Ahmad Syukri
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top