JAKARTA — Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS kembali tertekan pada penutupan perdagangan Rabu (30/6). Mata uang Garuda ditutup melemah 45 poin atau 0,25 persen menjadi Rp17.952 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.907 per dolar AS.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa ketidakpastian atas kemajuan negosiasi perdamaian AS dan Iran menjadi faktor utama yang membebani rupiah. Sikap Iran yang menolak pembicaraan langsung dengan utusan senior AS di Qatar dan memilih berdiskusi melalui mediator di tingkat teknis dinilai mengaburkan prospek kesepakatan damai yang langgeng.
"Ketidakpastian atas kemajuan negosiasi perdamaian AS-Iran mempertahankan premi risiko geopolitik di pasar, bahkan ketika produksi minyak mentah AS yang mencapai rekor tertinggi menggarisbawahi peningkatan pasokan global," ujar Ibrahim kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.
Kondisi ini membuat para pedagang tetap waspada. Pergeseran sikap Iran disebut memperkuat ketidakpastian tentang seberapa cepat Washington dan Teheran dapat menyelesaikan masalah yang belum terselesaikan, termasuk masa depan Selat Hormuz.
Di sisi lain, harga minyak mentah dunia justru mengalami penurunan tajam pasca konflik Iran. Harga Brent tercatat anjlok sekitar 38 persen selama kuartal kedua setelah melonjak sekitar 94 persen pada kuartal pertama. Penurunan ini menjadi yang tercuram sejak rekor penurunan 66 persen pada kuartal pertama tahun 2020.
Penurunan harga minyak terjadi seiring meredanya kekhawatiran akan gangguan pasokan yang berkepanjangan melalui Selat Hormuz. Patokan global ini juga turun sekitar 21 persen pada bulan Juni setelah sebelumnya turun 19 persen pada bulan Mei.
Para pelaku pasar saat ini juga mengalihkan perhatian ke data pasar tenaga kerja AS yang akan dirilis pekan ini. Laporan JOLTS pada Selasa (30/6) menunjukkan lowongan kerja naik menjadi 7,594 juta pada bulan Mei, melampaui ekspektasi pasar sebesar 7,3 juta. Sementara Indeks Kepercayaan Konsumen Conference Board AS pada bulan Juni membaik karena gencatan senjata antara AS dan Iran menurunkan harga bahan bakar.
Dari dalam negeri, pasar merespon negatif terhadap rilis data Neraca Perdagangan Indonesia (NPI) pada Mei 2026 yang mencatat defisit 1,61 miliar dolar AS. Ini merupakan defisit pertama sejak 6 tahun lalu, setelah Indonesia menikmati surplus selama 72 bulan beruntun sejak Mei 2020.
Ibrahim menjelaskan bahwa defisit tersebut disebabkan nilai impor yang lebih tinggi dari ekspor, yakni sebesar 24,81 miliar dolar AS, sedangkan ekspor RI hanya mencapai 23,20 miliar dolar AS.
Adapun inflasi tahunan pada Juni 2026 berada di level 3,34 persen year on year (yoy). Kelompok pengeluaran makanan, perawatan pribadi, hingga transportasi menjadi penyumbang utama inflasi pada periode tersebut. Realisasi inflasi ini tetap berada dalam kisaran target Bank Indonesia. Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah di level Rp17.961 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.899 per dolar AS.