JAMBI — Tradisi kepulangan jemaah haji di Provinsi Jambi tahun ini kembali menghadirkan warna tersendiri. Para jemaah Kloter BTH 21 yang tiba di Asrama Debarkasi Haji Antara pada Kamis (25/6/2026) malam, kompak mengganti pakaian ihram mereka dengan busana adat khas suku Bugis dan Banjar sebelum kembali ke kampung halaman.
Salah seorang jemaah asal suku Banjar, Hj. Akhtati Sagir M. Tinggal, tampil menonjol dengan busana khas kepulangan haji. Ia mengenakan Bolang Haji—penutup kepala berbentuk oval menyerupai sanggul—yang dihiasi sulaman emas, serta mispa atau baju kurung berwarna dengan pernak-pernik senada.
"Kebiasaannya kalau pulang dari berhaji pakai pakaian gini. Terus nanti pulang disambut dengan Maulid Nabi. Bangga banget dan bahagia banget," ujar Hj. Akhtati, yang tahun ini berangkat sebagai jemaah limpahan porsi menggantikan kakak kandungnya yang telah meninggal dunia.
Ia mengaku telah menyiapkan busana adat tersebut sejak enam bulan sebelum keberangkatan ke Tanah Suci. Meski demikian, baginya kemewahan pakaian bukanlah yang utama. "Harapan saya lebih memperbaiki diri, lebih istiqomah, lebih bertakwa kepada Allah Yang Maha Kuasa," tambahnya.
Berbeda dengan Hj. Akhtati, jemaah suku Bugis, Hj. Lailatun Najmiah, justru tidak merencanakan sendiri busana yang dikenakannya. Pakaian adat yang ia pakai merupakan pemberian dari keluarganya sebagai bentuk kasih sayang dan ungkapan syukur atas kepulangannya dari Tanah Suci.
"Sebenarnya bukan bajunya yang saya banggakan. Saya bisa berangkat haji, walaupun tidak punya uang, tidak punya apa-apa, tapi kami bisa berangkat haji. Ini baju bukan baju dari saya, ini dari keluarga menyiapkan," ungkap Hj. Lailatun, yang harus menanti selama 12 tahun untuk mendapatkan panggilan haji.
Ia menegaskan bahwa ibadah haji adalah cita-cita tertinggi setiap muslim. Doanya bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk seluruh keluarga dan keturunan agar kelak mendapat kesempatan yang sama menunaikan rukun Islam kelima.
Keunikan pemulangan Kloter BTH 21 tidak hanya berasal dari jemaah suku Bugis dan Banjar. Sejumlah jemaah dari latar belakang suku lain juga turut memeriahkan kepulangan dengan pakaian terbaik mereka. H. Husein Tanjung Achmad, misalnya, jemaah asli suku Minang yang telah menetap di Tanjung Jabung Barat, memilih mengenakan gamis putih, sorban, dan jubah ala Arab yang identik dengan suasana Tanah Suci.
Pakaian kebangsaan yang dikenakan para jemaah ini bukan sekadar busana. Ia menjadi simbol kebanggaan identitas suku yang telah berakar di wilayah pesisir Provinsi Jambi, sekaligus penanda bahwa tradisi dan syariat dapat berjalan beriringan dalam momen sakral kepulangan haji.