JAMBI — General Manager PLN UID Kaltimra, Muchamad Chaliq Fadli, memaparkan peta jalan elektrifikasi pedesaan dalam audiensi bersama Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji, di Samarinda, Kamis (17/4). Setelah merampungkan proyek di 41 lokasi tahun lalu, perusahaan langsung bergerak membangun jaringan di 36 titik baru sepanjang tahun ini.
"Harapan kami, pada 2027 seluruh desa di Kaltim sudah 100 persen teraliri listrik," ujar Chaliq.
Wagub Seno Aji memberikan apresiasi atas konsistensi PLN dalam memperluas interkoneksi ke wilayah pelosok melalui Program Listrik Desa (Lisdes). Menurutnya, capaian ini menjadi bukti konkret kehadiran negara dalam pemenuhan hak dasar warga.
"Capaian ini menjadi bukti kehadiran pemerintah dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, khususnya warga pedesaan yang selama ini belum terjangkau layanan kelistrikan secara optimal," ungkap Seno Aji.
Untuk memuluskan target 2027, Pemprov Kaltim berkomitmen menghilangkan hambatan birokrasi. Seno Aji memastikan pemerintah daerah akan mempercepat proses administrasi dan regulasi yang dibutuhkan di lapangan.
"Prinsipnya, Pemprov Kaltim siap berkolaborasi untuk mendukung pembangunan ketenagalistrikan desa ini. Saya minta OPD terkait segera bergerak cepat menindaklanjuti dan memfasilitasi kebutuhan yang diperlukan PLN," tegasnya.
Program ini menyasar desa-desa terpencil yang selama ini belum tersentuh jaringan listrik. Dengan tambahan 36 titik baru pada 2026, ribuan rumah tangga di pelosok Kaltim bakal menikmati listrik untuk penerangan, usaha kecil, dan kebutuhan sehari-hari. Langkah ini juga diharapkan mendorong aktivitas ekonomi lokal yang sebelumnya terhambat tanpa pasokan energi.
PLN UID Kaltimra menargetkan tidak ada lagi desa yang gelap gulita di Kaltim pada 2027. Meski progres pembangunan berjalan sesuai rencana, tantangan geografis dan cuaca di wilayah timur Kalimantan tetap menjadi faktor yang harus diantisipasi. Kolaborasi erat antara PLN dan Pemprov menjadi kunci utama agar target ambisius ini tercapai tepat waktu.
Keberhasilan elektrifikasi desa nantinya akan memperkuat rasio elektrifikasi Kalimantan Timur yang sudah masuk kategori tinggi, sekaligus menutup celah ketimpangan akses listrik antara wilayah perkotaan dan pedesaan.