JAMBI — Deretan kandang di Tempat Penyelamatan Satwa (TPS) BKSDA Jambi pekan lalu menjadi ruang kelas bagi 9 mahasiswa Biologi UIN STS Jambi. Bukan sekadar melihat langsung, mereka mendapat penjelasan rinci dari petugas BKSDA, drh. Zulmanudin, tentang fungsi tempat tersebut sebagai pusat rehabilitasi sementara.
Mahasiswa diperkenalkan dengan berbagai satwa yang tengah menjalani perawatan. Beberapa di antaranya merupakan hasil penyelamatan dari konflik dengan manusia atau sitaan kasus perdagangan satwa ilegal. Proses ini menjadi gambaran nyata bahwa konservasi bukan hanya soal melindungi spesies, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem.
Dalam sesi lapangan, mahasiswa tidak hanya mendengar soal teori dinamika populasi. Mereka diajak memahami tantangan di lapangan, seperti bagaimana satwa liar yang kehilangan habitat akhirnya masuk ke permukiman warga.
“Belajar langsung dari lapangan memberikan pengalaman yang sangat berharga bagi mahasiswa untuk memahami bahwa konservasi satwa tidak hanya berkaitan dengan perlindungan spesies, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem secara keseluruhan,” ujar Bayu Kurniawan, S.Si., M.Sc., dosen pendamping kegiatan dari Prodi Biologi UIN STS Jambi.
Kuliah lapangan ini merupakan bagian dari Mata Kuliah Ekologi dan Biodiversitas. Bayu menegaskan bahwa metode pembelajaran berbasis pengalaman atau experiential learning menjadi kunci agar mahasiswa tak hanya hafal konsep, tetapi mampu mengamati penerapannya langsung.
Mereka melihat sendiri bagaimana petugas BKSDA menangani satwa hasil sitaan, proses karantina, hingga tahap rehabilitasi sebelum satwa siap dilepasliarkan ke habitat alaminya. Proses ini mengajarkan hubungan kompleks antara keanekaragaman hayati, interaksi organisme, dan tekanan lingkungan.
Kegiatan ditutup dengan sesi diskusi dan tanya jawab di halaman TPS. Diharapkan, pengalaman ini tidak hanya menambah wawasan ilmiah, tetapi juga menumbuhkan semangat mahasiswa untuk berkontribusi dalam perlindungan satwa liar di masa depan.
Bagi mahasiswa Biologi, kunjungan ini menjadi pengingat bahwa upaya konservasi adalah kerja panjang yang dimulai dari pemahaman ekosistem secara utuh. BKSDA Jambi pun membuka kesempatan bagi institusi pendidikan lain untuk melakukan studi serupa.