JAKARTA — IHSG bergerak variatif sebelum akhirnya terperosok ke zona merah pada sesi kedua perdagangan. Indeks sempat bertahan di teritori positif sejak pembukaan hingga penutupan sesi pertama, namun tekanan jual muncul menjelang penutupan.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim mengungkapkan investor cenderung mengambil posisi hati-hati. Setidaknya ada tiga agenda utama yang menjadi acuan: pertemuan FOMC The Fed dan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang sama-sama digelar Kamis (18/6), serta rilis MSCI Global Market Accessibility Review pada Jumat (19/6).
“IHSG bergerak mixed di tengah menantikan sejumlah agenda penting,” ujar Ratna dalam kajiannya di Jakarta, Rabu.
Konsensus pasar memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga acuan di level 3,5-3,75 persen. Sementara Bank Indonesia diproyeksikan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen.
Dari 11 sektor IDX-IC, hanya dua sektor yang mampu bertahan di zona hijau. Sektor barang konsumen primer naik 0,58 persen dan sektor infrastruktur menguat 0,32 persen. Adapun sembilan sektor lainnya melemah, dengan sektor industri menjadi yang paling terpuruk yakni turun 2,51 persen.
Sektor transportasi dan logistik serta energi masing-masing ambles 2,03 persen dan 2,01 persen. Pelemahan ini turut menekan indeks meskipun kelompok saham unggulan LQ45 masih mampu naik tipis 0,09 persen ke posisi 625,23.
Nilai tukar rupiah di pasar spot ikut melemah 0,21 persen ke level Rp17.762 per dolar AS. Pelemahan rupiah terjadi di tengah ketidakpastian arah suku bunga global dan domestik.
Sementara itu, bursa saham regional Asia sore ini bergerak mixed. Nikkei menguat 0,83 persen, Shanghai naik 0,40 persen, dan Strait Times terapresiasi 1,16 persen. Sebaliknya, Hang Seng justru melemah 0,74 persen.
Sepanjang perdagangan Rabu, frekuensi transaksi tercatat sebanyak 2.315.000 kali dengan volume saham yang diperdagangkan mencapai 31,47 miliar lembar. Total nilai transaksi mencapai Rp24,67 triliun. Sebanyak 306 saham berhasil naik, 409 saham menurun, dan 244 saham stagnan.
Saham-saham dengan penguatan tertinggi antara lain BCIC, DEFI, dan ESIP. Sedangkan GHON, BINA, dan NZIA menjadi tiga besar saham yang mengalami pelemahan terdalam.