JAKARTA — Pasar saham Indonesia mengawali pekan dengan lonjakan signifikan, sejalan dengan bursa saham global yang kompak menguat. Kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang diumumkan akhir pekan lalu menjadi katalis utama yang mengubah sentimen investor dari khawatir menjadi optimis.
Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa kesepakatan damai dengan Iran telah selesai dan akan ditandatangani secara resmi pada 19 Juni 2026 di Swiss. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengonfirmasi bahwa nota kesepahaman telah difinalisasi.
Kesepakatan ini mencakup sejumlah poin penting:
Meski demikian, Iran menegaskan pengelolaan Selat Hormuz tetap berada di bawah kendali bersama Iran dan Oman, termasuk kemungkinan pungutan atas layanan navigasi dan keamanan.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menyebut membaiknya situasi geopolitik langsung mengurangi kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global. "Membaiknya situasi geopolitik, mengurangi kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global dan langsung meningkatkan selera risiko investor," ujar Liza dalam kajiannya di Jakarta, Senin.
Bursa saham regional Asia pagi ini mencatat penguatan signifikan. Indeks Nikkei Tokyo melesat 5,44 persen ke 69.680,00, disusul indeks Shanghai naik 0,94 persen ke 4.096,31, dan Hang Seng Hong Kong menguat 0,43 persen ke 24.828,00. Sementara itu, bursa Eropa dan Wall Street juga kompak menghijau pada perdagangan Jumat pekan lalu.
Pekan ini, pelaku pasar juga mencermati rapat The Federal Reserve yang pertama di bawah kepemimpinan Kevin Warsh. Liza memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50 hingga 3,75 persen. Keputusan ini dinilai krusial karena akan mempengaruhi aliran modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dari dalam negeri, Bank Dunia memperkirakan defisit APBN Indonesia tetap tinggi di level 2,8 persen PDB pada 2026-2027, baru turun tipis ke 2,7 persen pada 2028. Tekanan subsidi energi dan kenaikan beban bunga utang menjadi penyebab utama.
Di tengah kondisi itu, Danantara melalui PT Danantara Investment Management (DIM) menerbitkan obligasi global perdana senilai 1,5 miliar dolar AS. Obligasi ini terbagi dalam dua seri: tenor 5 tahun dengan yield 5,35 persen dan tenor 10 tahun dengan yield 5,95 persen. Penerbitan ini merupakan bagian dari program GMTN senilai 5 miliar dolar AS.
Sementara itu, Bank Indonesia dan PBOC memperdalam kerja sama keuangan melalui peningkatan Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA), perluasan transaksi mata uang lokal, serta peluncuran sistem pembayaran QR lintas batas Indonesia-China.