WASHINGTON — Proses perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran memasuki babak baru setelah Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi jadwal penandatanganan kesepakatan pada Minggu (14/6). Trump menuliskan pernyataan tersebut melalui akun Truth Social-nya, menyebut bahwa hubungan kedua negara kini berada dalam posisi yang "jauh berbeda dan lebih baik" dibandingkan era pemerintahan AS sebelumnya.
Trump menegaskan bahwa kesepakatan ini tidak mencakup pengiriman dana dari AS kepada Iran. Ia membandingkan dengan era mantan Presiden Barack Obama yang disebutnya memberikan "ratusan miliar dolar" termasuk 1,7 miliar dolar dalam bentuk uang tunai kepada Iran.
"Berbeda dengan pembayaran ratusan miliar dolar yang diberikan kepada mereka pada masa Obama, tidak akan ada uang yang berpindah tangan," kata Trump.
Dalam pernyataannya, Trump juga mengklaim bahwa Iran tidak lagi menginginkan senjata nuklir. "Faktanya, mereka tidak lagi menginginkan senjata nuklir, dan mereka juga tidak akan memilikinya, baik melalui pembelian, pengembangan, maupun cara perolehan lainnya," ujarnya.
Trump menambahkan bahwa AS "akan masuk dan mengambil debu nuklir" pada waktu yang dianggap tepat dan ketika situasi telah benar-benar tenang.
Kementerian Luar Negeri Pakistan juga menyatakan bahwa upacara penandatanganan kesepakatan dijadwalkan berlangsung pada Minggu. Dalam unggahan di platform X, kemenlu Pakistan menyebut Menteri Luar Negeri Pakistan dan Arab Saudi menyambut baik perundingan AS-Iran yang telah memasuki tahap akhir, dengan upacara penandatanganan elektronik dijadwalkan besok.
Pada Jumat, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa Teheran dan Washington belum pernah sedekat ini dalam mencapai sebuah nota kesepahaman. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif juga mengumumkan bahwa naskah final kesepakatan damai telah disepakati.
Araghchi menegaskan bahwa Teheran tetap bersikeras bahwa satu-satunya cara yang dapat diterima untuk menangani persediaan uranium yang diperkaya tingkat tinggi milik Iran adalah dengan memprosesnya di wilayah Iran sendiri. Pernyataan ini menjadi poin krusial dalam negosiasi yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir.