JAMBI — Piala Dunia 2026 akan diikuti 48 tim, membuka peluang lebih besar bagi tim non-unggulan untuk melaju jauh. Dari sekian kandidat, tiga negara menarik perhatian karena performa konsisten dan skuad yang matang.
Ekuador bukan tim sembarangan. Mereka finis di posisi kedua klasemen kualifikasi Amerika Selatan, hanya kalah dari Argentina. Rekor pertahanan mereka luar biasa: hanya kebobolan lima gol dalam 18 laga dan mencatatkan 13 clean sheet. Mereka tertinggal hanya 97 menit sepanjang babak kualifikasi.
Pelatih Sebastián Beccacece membangun tim berbasis struktur dan kontrol, bukan sekadar flair khas Amerika Selatan. Tiga pilar muda—Moisés Caicedo, Piero Hincapié, dan Willian Pacho—menjadi fondasi. Masalahnya, produktivitas gol masih bergantung pada Enner Valencia (34 tahun) yang mencetak enam dari 14 gol tim. “Kami hanya perlu mencetak satu gol lebih banyak dari lawan,” kata Beccacece. Filosofi itu cocok untuk laga knockout yang ketat.
Jepang memegang rekor tim dengan laga terbanyak tanpa pernah lolos ke perempat final: 25 pertandingan. Empat kali mentok di babak 16 besar, termasuk kalah adu penalti dari Kroasia pada 2022. Namun, tren positif terlihat: mereka mengalahkan Jerman dan Spanyol di Piala Dunia 2022, lalu Inggris dan Brasil dalam laga uji coba setahun terakhir.
Pelatih Hajime Moriyasu, yang sudah menukangi tim sejak 2018, mempertahankan 13 pemain dari skuad 2022. Meski kehilangan Kaoru Mitoma dan Takumi Minamino karena cedera, Jepang masih punya Takefusa Kubo, Daichi Kamada, dan Ayase Ueda—top skor Eredivisie musim ini. “Target kami juara dunia,” ujar Moriyasu. Kelompok mereka berat (Belanda, Swedia, Tunisia), tapi pressing tinggi dan kekompakan tim bisa menjadi pembeda.
Norwegia kembali ke Piala Dunia setelah 28 tahun absen—terakhir pada 1998. Skuad saat itu belum lahir saat Norwegia terakhir tampil. Kini, dengan Erling Haaland dan Martin Ødegaard sebagai motor, mereka lolos dengan rekor sempurna: delapan kemenangan, 37 gol, kebobolan lima. Kemenangan 11-1 atas Moldova menjadi puncak performa.
Pelatih Ståle Solbakken merancang tim yang bisa menyerang dari berbagai skema: build-up sabar, transisi cepat, atau umpan silang ke kotak penalti memanfaatkan keunggulan fisik. Norwegia tidak hanya datang untuk memenuhi kuota—mereka punya daya gedor yang bisa merepotkan tim besar mana pun.