JAMBI — Bank Indonesia mencatat aliran dana asing masuk hingga US$9 miliar atau setara Rp162,39 triliun lewat transaksi FX swap dan domestic non-deliverable forward. Dana itu merupakan hasil insentif biaya lindung nilai yang berlaku sejak akhir Juni. Gubernur BI Destry Damayanti menyebut langkah tersebut sebagai upaya menjaga stabilitas rupiah di tengah gejolak global.
Dua Instrumen yang Menjadi Jalur Masuknya Dana
Dana asing tidak masuk lewat satu pintu. BI mencatat FX swap dan DNDF sebagai kanal utama masuknya dolar dari kebijakan insentif tersebut. Kedua instrumen itu memungkinkan pelaku pasar mengunci nilai tukar tanpa harus membawa dana keluar-masuk negeri secara fisik.
Selain memberi insentif, bank sentral tetap melakukan intervensi di pasar valuta asing. Intervensi dijalankan melalui transaksi spot, DNDF, dan non-deliverable forward (NDF). Destry menyatakan BI akan terus memantau pergerakan rupiah di tengah volatilitas pasar global.
Tekanan Rupiah Masih Datang dari Luar Negeri
Tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya hilang. Destry menjelaskan kondisi ekonomi global masih menjadi pemicu, termasuk inflasi yang belum mencapai target di sejumlah negara dan ketidakpastian arah suku bunga bank sentral AS, The Fed.
"Intinya Bank Indonesia akan selalu tetap berjaga di pasar. Kami diminta juga oleh Bapak Presiden (Prabowo Subianto) untuk terus melihat, upayakan kebijakan-kebijakan yang kami miliki, apakah itu bentuknya intervensi di spot, DNDF, dan NDF ataupun juga dalam bentuk insentif biaya hedging," ujar Destry dalam keterangan pers di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Senin (19/10).
Inflasi Inti September di 2,8 Persen, Pangan Bergejolak 5 Persen
Dari sisi harga, BI mencatat inflasi inti September terkendali di level 2,8 persen. Inflasi pangan bergejolak (volatile food) justru mencapai 5 persen, di atas sasaran bank sentral.
Untuk menekan angka itu, BI akan berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian agar inflasi pangan kembali ke sasaran 2,5 persen plus-minus 1 persen. Koordinasi ini menjadi bagian dari upaya menjaga daya beli masyarakat tanpa harus menaikkan suku bunga secara agresif.
Rupiah Relatif Stabil di Tengah Perlambatan Negara Berkembang
Destry menyebut rupiah relatif stabil dalam dua hari terakhir meski pasar global masih bergejolak. Pergerakan tersebut sejalan dengan perlambatan yang terjadi di sejumlah negara pasar berkembang (emerging market).
Bagi investor, kombinasi insentif hedging dan intervensi pasar memberi sinyal bahwa BI memilih jalur stabilisasi ketimbang membiarkan rupiah bergerak bebas. Imbasnya, biaya lindung nilai bagi korporasi yang punya utang atau transaksi dalam dolar ikut tertekan turun.
Pelaku usaha yang selama ini menahan eksposur valas bisa memanfaatkan momentum ini untuk mengunci kurs. Namun, arah The Fed tetap menjadi variabel penentu seberapa lama aliran dana asing bertahan di pasar domestik.