JAMBI — Dua ibu bersaudara ipar di Inggris saling menyusui bayi satu sama lain selama tujuh tahun terakhir, berawal dari situasi darurat saat bayi berusia lima hari. Keputusan ini menuai pro dan kontra, tapi tahukah Bunda apa kata ahli soal risiko kesehatan dan keamanannya?
Holly dan Becky Stevens, dua perempuan Inggris yang bersaudara ipar, membagikan kisah mereka di sebuah acara televisi Inggris. Keduanya mengaku telah saling menyusui bayi masing-masing selama tujuh tahun. Semua bermula ketika putra Holly, Freddy, baru berusia lima hari dan Becky diminta menjaganya.
Freddy butuh asupan mendadak, dan Becky yang saat itu juga sedang menyusui putranya sendiri, Foy, langsung memberikan ASI-nya. "Rasanya wajar saja untuk dilakukan, dan tidak terasa aneh," ujar Becky seperti dikutip dari NY Post.
Sejak itu, kebiasaan ini berlanjut. Holly pernah tiba di rumah Becky tanpa membawa pompa ASI dan akhirnya langsung menyusui Foy. Baginya, ini lebih praktis karena tak perlu membawa botol di tas perlengkapan bayi yang sudah penuh. Holly bahkan pernah menyusui putri Becky yang baru lahir, Pearl.
Apa Itu Wet Nursing dan Seberapa Umum Dilakukan?
Praktik berbagi ASI bukan hal baru. Wet nursing, yaitu ketika seorang perempuan menyusui memberikan ASI-nya kepada bayi perempuan lain, sudah ada sejak 2000 SM dan bertahan sebagai profesi terorganisasi hingga abad ke-19. Praktik ini kemudian tergantikan oleh botol dan susu tambahan.
Sebuah studi di jurnal JAMA pada 2025 menemukan bahwa dari hampir 2.000 ibu di Amerika Serikat, 3,7 persen melaporkan memberikan ASI dari orang lain kepada bayi mereka selama enam bulan pertama kehidupan. Angka ini menunjukkan praktik berbagi ASI masih terjadi di masyarakat modern.
Amankah Menyusui Bayi Orang Lain Secara Langsung?
Seorang perawat praktisi pediatri dan konsultan laktasi bersertifikat internasional di 1 Natural Way menyatakan bahwa dalam kasus kerabat dekat atau teman, menyusui langsung bayi untuk bayi lain tidak berbahaya selama kedua ibu terbuka mengenai kondisi kesehatan, penggunaan obat-obatan, dan risiko potensial lainnya.
Namun, ada risiko bagi kedua belah pihak. Melewatkan jadwal menyusui yang biasa dapat menyebabkan payudara terasa penuh dan nyeri akibat penumpukan ASI. Sebaliknya, pemberian ASI tambahan bisa memicu produksi ASI berlebih atau pembengkakan payudara saat pemberian ASI tambahan itu dihentikan.
Risiko Potensial yang Perlu Bunda Waspadai
Obat-obatan, suplemen, dan zat tertentu dapat tersalurkan melalui ASI. Infeksi termasuk HIV dan, dalam kondisi tertentu, virus herpes simpleks juga dapat menular. Berbagi payudara berarti terjadi pertukaran air liur antarbayi, yang berpotensi menyebarkan penyakit menular.
Kekhawatiran lain adalah memastikan setiap anak mendapat asupan yang cukup. "Biasanya, produksi ASI yang sudah stabil hanya cukup untuk satu bayi," kata Kreyling, konsultan laktasi tersebut. Asupan yang tidak memadai dapat menyebabkan dehidrasi, terutama pada bayi baru lahir.
FDA memperingatkan agar tidak memberikan ASI dari sumber mana pun yang belum melalui pemeriksaan resmi. Peringatan ini muncul setelah CDC melaporkan pada Agustus lalu bahwa lima bayi di California berpotensi terpapar HIV melalui ASI yang didapatkan lewat media sosial. Meski penyelidik akhirnya tidak menemukan bukti penularan, kasus ini menjadi pengingat pentingnya kehati-hatian.
Kapan Bunda Perlu Berhati-hati atau Konsultasi ke Dokter?
Jika Bunda mempertimbangkan berbagi ASI dengan kerabat atau sahabat, pastikan kedua pihak terbuka soal riwayat kesehatan, obat yang sedang dikonsumsi, dan hasil skrining penyakit menular. Konsultasikan dengan dokter atau konsultan laktasi sebelum memutuskan.
Untuk bayi baru lahir, risiko dehidrasi dan kekurangan asupan lebih tinggi. Pantau tanda-tanda seperti popok yang jarang basah, bayi lemas, atau berat badan tidak naik. Segera ke dokter jika muncul tanda-tanda tersebut.
Bagi Holly dan Becky, kesepakatan ini bukan soal membuat pernyataan sikap, melainkan mempermudah peran mereka sebagai ibu. "Ini sangat praktis. ASI tetaplah ASI," ujar Holly. Keputusan berbagi ASI memang kembali ke masing-masing keluarga, selama dilakukan dengan kesadaran penuh akan manfaat dan risikonya.