JAMBI — Perjalanan sejarah kepahlawanan Jambi tidak bisa dilepaskan dari keberadaan Kesultanan Jambi, gelombang perlawanan terhadap kolonialisme, dan upaya masyarakat setempat menjaga kedaulatan mereka. Dua nama yang paling menonjol adalah Sultan Thaha Syaifuddin dan Raden Mattaher. Keduanya bukan hanya tercatat di buku sejarah, tetapi juga melekat pada nama jalan, institusi, situs bersejarah, dan ingatan kolektif warga Jambi.
Menelusuri kisah para pahlawan dari Jambi berarti menyusuri perlawanan yang berlangsung dalam rentang waktu sangat panjang, melibatkan kepemimpinan, taktik, keberanian, serta dukungan masyarakat.
Dua Pahlawan Nasional dari Jambi
Dari sekian banyak nama pejuang Jambi, baru dua tokoh yang resmi menyandang gelar Pahlawan Nasional, yaitu Sultan Thaha Syaifuddin dan Raden Mattaher. Sultan Thaha menerima gelar itu pada 1977, sedangkan Raden Mattaher baru ditetapkan pada 10 November 2020 berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 117/TK/Tahun 2020. Keduanya hidup pada fase perjuangan yang berbeda, namun punya benang merah yang sama: keduanya terlibat dalam perlawanan rakyat Jambi terhadap kekuasaan kolonial Belanda.
Sultan Thaha Syaifuddin, Pemimpin Perlawanan Jambi
Sultan Thaha Syaifuddin adalah sultan terakhir Kesultanan Jambi dan tokoh sentral dalam perlawanan melawan Belanda. Ia dilahirkan di lingkungan Keraton Tanah Pilih Jambi pada 1816 dengan nama Sultan Raden Toha Jayadiningrat. Pada 1855, ia naik takhta sebagai Sultan Jambi di tengah makin kuatnya pengaruh Belanda di wilayah tersebut.
Berbeda dari sebagian penguasa yang memilih berkompromi dengan pemerintah kolonial, Sultan Thaha bersikap tegas menolak campur tangan Belanda.
Mengapa Sultan Thaha Menolak Belanda?
Penolakan Sultan Thaha bukan sekadar soal kekuasaan istana. Campur tangan Belanda juga menyentuh kedaulatan Kesultanan Jambi serta pengaruhnya terhadap pemerintahan lokal. Sejak menjadi Sultan pada 1855, ia makin giat membangun kekuatan untuk menghadapi Belanda. Ketika tekanan kolonial meningkat, Sultan Thaha memilih meninggalkan pusat kerajaan dan meneruskan perjuangan dari wilayah pedalaman.
Strategi itu membuat perlawanan Jambi bertahan sangat lama. Sultan Thaha tidak bergantung pada satu pertempuran besar, melainkan membangun perlawanan yang bertumpu pada dukungan masyarakat dan para pemimpin lokal.
Sumber kebudayaan pemerintah mencatat bahwa Sultan Thaha menjalankan perang gerilya sejak Belanda mulai menduduki wilayah Kesultanan Jambi pada 1858. Ia terus bergerak dan mempertahankan perlawanan hingga akhir hayatnya pada 1904.
Strategi Perlawanan Sultan Thaha
Kekuatan Sultan Thaha tidak hanya bersumber dari kedudukannya sebagai sultan. Ia juga mampu membangun jaringan perlawanan di berbagai wilayah. Ketika Belanda memperkuat kekuatan militernya, Sultan Thaha membagi wilayah pertahanan dan menempatkan sejumlah panglima untuk memimpin perlawanan di wilayah masing-masing.
Perang gerilya menjadi ciri utama perjuangan tersebut. Para pejuang memanfaatkan kondisi geografis Jambi yang memiliki hutan, sungai, dan wilayah pedalaman yang luas. Kondisi itu menyulitkan pasukan Belanda menemukan pusat kekuatan perlawanan.
Perjuangan Sultan Thaha berlangsung puluhan tahun. Meski menghadapi pasukan dengan persenjataan lebih modern, ia tidak pernah menyerah begitu saja. Sultan Thaha akhirnya gugur pada 1904. Setelah perjuangannya berakhir, perlawanan terhadap Belanda dilanjutkan sejumlah panglima, salah satunya Raden Mattaher.
Raden Mattaher, Singo Kumpeh
Jika Sultan Thaha dikenal sebagai pemimpin Kesultanan Jambi yang gigih menghadapi Belanda, Raden Mattaher dikenal sebagai salah satu panglima perang penting yang meneruskan perlawanan tersebut. Raden Mattaher lahir dengan nama Raden Mohammad Tahir pada 1871 di Dusun Sekamis, Kasau Melintang Pauh, Air Hitam, Jambi.
Ia berasal dari lingkungan bangsawan Kesultanan Jambi dan memiliki hubungan keluarga dengan Sultan Thaha. Ayahnya, Pangeran Kusin, merupakan keturunan Pangeran Adi yang merupakan saudara Sultan Thaha. Dalam perjuangannya, Raden Mattaher dikenal dengan julukan Singo Kumpeh. Julukan itu menggambarkan keberanian dan kekuatannya sebagai panglima perang, sementara nama Kumpeh berkaitan erat dengan wilayah yang menjadi salah satu medan penting perjuangannya.
Strategi Gerilya Raden Mattaher
Raden Mattaher memahami bahwa kondisi geografis Jambi dapat menjadi kekuatan dalam menghadapi Belanda. Sungai Batanghari dan berbagai anak sungainya pada masa itu merupakan jalur penting bagi transportasi dan distribusi logistik. Bagi Belanda, jalur sungai menjadi sarana mengangkut pasukan, persenjataan, dan perbekalan. Bagi Raden Mattaher dan pasukannya, jalur yang sama dapat dimanfaatkan sebagai medan penyergapan.
Karena itu, strategi Raden Mattaher tidak selalu berupa pertempuran terbuka. Ia menggunakan pola gerilya dengan memanfaatkan pengetahuan terhadap medan dan melakukan serangan terhadap jalur logistik Belanda. Beberapa ciri strategi yang dikenal dalam perjuangannya antara lain:
- Memanfaatkan sungai sebagai medan strategis.
- Menyerang kapal dan konvoi logistik.
- Menggunakan serangan mendadak.
- Memanfaatkan kondisi geografis setempat.
- Menghindari pertempuran terbuka ketika tidak menguntungkan.
- Mempertahankan jaringan perlawanan meskipun menghadapi tekanan militer Belanda.
Strategi tersebut membuat Raden Mattaher menjadi salah satu lawan yang diperhitungkan Belanda. Setelah Sultan Thaha wafat pada 1904, Raden Mattaher melanjutkan perjuangan melawan Belanda. Sumber kebudayaan pemerintah menyebutnya sebagai salah satu pemimpin utama perlawanan Jambi yang dikenal berani, cerdas, dan memiliki kemampuan mengatur strategi.
Jejak Perjuangan Raden Mattaher
Perjuangan Raden Mattaher tidak hanya penting karena keberaniannya menghadapi Belanda. Kisahnya juga menunjukkan bagaimana masyarakat Jambi memanfaatkan kondisi alam dan jaringan sosial untuk mempertahankan perlawanan. Sungai yang menjadi jalur transportasi bagi pemerintah kolonial dapat berubah menjadi medan perang. Hutan dan wilayah pedalaman yang sulit dijangkau juga memberi ruang bagi para pejuang untuk bergerak.
Dalam sejumlah perlawanan, Raden Mattaher bersama panglima lainnya melakukan serangan terhadap kepentingan dan jalur logistik Belanda. Perjuangan itu membuat Belanda terus mengejarnya. Ia bahkan menjadi salah satu tokoh yang paling dicari oleh pemerintah kolonial.
Akhir Perjuangan Raden Mattaher
Perlawanan Raden Mattaher akhirnya berakhir pada September 1907. Setelah bertahun-tahun bergerilya dan menjadi buronan Belanda, kedudukannya berhasil diketahui pasukan kolonial. Raden Mattaher kemudian gugur dalam pertempuran di Dusun Muaro Jambi pada 10 September 1907. Sumber Balai Pelestarian Kebudayaan mencatat bahwa ia gugur pada waktu subuh dalam pertempuran melawan Belanda.
Setelah gugur, jenazahnya dibawa ke Jambi dan dimakamkan di kompleks pemakaman raja-raja Jambi di tepi Danau Sipin. Jejak sejarah Raden Mattaher juga dapat ditemukan di kawasan Muaro Jambi, termasuk lokasi yang berkaitan dengan perjuangannya. Balai Pelestarian Kebudayaan pernah mendokumentasikan sejumlah lokasi tersebut dalam pembuatan film dokumenter mengenai Raden Mattaher, termasuk kompleks makamnya di Danau Sipin, makam kelingkingnya di Muaro Jambi, serta lokasi bekas rumahnya.
Dari Panglima Perang Menjadi Pahlawan Nasional
Perjuangan Raden Mattaher tidak berhenti ketika ia gugur. Kisah perjuangannya terus dikaji dan diperkenalkan kepada masyarakat. Dokumentasi sejarah dan kajian mengenai dirinya kemudian menjadi bagian dari proses pengusulan gelar Pahlawan Nasional. Pada 10 November 2020, pemerintah Republik Indonesia secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Raden Mattaher melalui Keputusan Presiden Nomor 117/TK/Tahun 2020.
Ia menjadi tokoh Pahlawan Nasional kedua dari Provinsi Jambi setelah Sultan Thaha Syaifuddin. Pemberian gelar tersebut bukan hanya bentuk penghargaan kepada seorang panglima perang, tetapi juga pengakuan terhadap perjuangan masyarakat Jambi dalam menghadapi kolonialisme.
Jejak Pahlawan Jambi pada Masa Kini
Warisan Sultan Thaha Syaifuddin dan Raden Mattaher masih dapat ditemukan dalam berbagai bentuk. Nama Sultan Thaha, misalnya, digunakan sebagai nama Bandar Udara Sultan Thaha di Jambi. Hal ini menjadi salah satu contoh bagaimana nama seorang tokoh sejarah tetap hadir dalam kehidupan masyarakat modern.
Nama Raden Mattaher juga digunakan pada sejumlah fasilitas dan ruang publik di Jambi. Salah satunya adalah rumah sakit daerah yang menggunakan nama RSUD Raden Mattaher Jambi. Selain nama dan bangunan, jejak mereka juga dapat ditemukan melalui makam, lokasi bersejarah, dokumentasi, penelitian, dan cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Warisan tersebut penting karena sejarah kepahlawanan bukan hanya mengenai peperangan. Di dalamnya terdapat nilai keberanian, kepemimpinan, keteguhan, kecintaan terhadap daerah, dan kemampuan mempertahankan prinsip di tengah tekanan.
Fakta Singkat:
- Sultan Thaha Syaifuddin lahir pada 1816 di Keraton Tanah Pilih Jambi dan naik takhta pada 1855.
- Raden Mattaher lahir pada 1871 di Dusun Sekamis, Kasau Melintang Pauh, Air Hitam, Jambi.
- Raden Mattaher gugur pada 10 September 1907 di Dusun Muaro Jambi.
- Gelar Pahlawan Nasional: Sultan Thaha (1977) dan Raden Mattaher (10 November 2020, Keppres Nomor 117/TK/Tahun 2020).
Nilai Perjuangan yang Dapat Dipelajari
Kisah Sultan Thaha Syaifuddin dan Raden Mattaher memberikan sejumlah pelajaran penting bagi generasi sekarang.
1. Keteguhan dalam mempertahankan prinsip
Sultan Thaha menunjukkan bahwa tekanan dari kekuatan yang lebih besar tidak selalu membuat seseorang harus menyerah.
2. Pentingnya strategi
Raden Mattaher menunjukkan bahwa keberanian perlu disertai kemampuan membaca situasi dan memahami lingkungan.
3. Dukungan masyarakat
Perlawanan yang berlangsung lama tidak mungkin berjalan tanpa dukungan masyarakat. Hubungan antara pemimpin dan rakyat menjadi salah satu unsur penting dalam sejarah perjuangan Jambi.
4. Memanfaatkan kondisi lokal
Hutan, sungai, dan wilayah pedalaman yang pada masa kini dapat dipandang sebagai bagian dari kondisi geografis Jambi, pada masa perjuangan justru menjadi bagian dari strategi pertahanan.
5. Menjaga ingatan sejarah
Gelar Pahlawan Nasional bukanlah akhir dari perjalanan sejarah. Generasi berikutnya tetap memiliki tanggung jawab untuk mempelajari, mendokumentasikan, dan memperkenalkan kisah para pejuang kepada masyarakat.
Kesimpulan
Tokoh pahlawan dari Jambi memiliki sejarah perjuangan yang panjang dan erat kaitannya dengan perlawanan terhadap kolonialisme Belanda. Sultan Thaha Syaifuddin tampil sebagai pemimpin Kesultanan Jambi yang mempertahankan kedaulatan melalui perjuangan panjang selama puluhan tahun. Setelah perjuangannya berakhir pada 1904, perlawanan kemudian diteruskan oleh sejumlah panglima, termasuk Raden Mattaher.
Raden Mattaher yang dikenal sebagai Singo Kumpeh menunjukkan bagaimana strategi gerilya dan pemanfaatan kondisi geografis dapat digunakan untuk menghadapi kekuatan militer yang lebih besar. Ia terus melawan hingga gugur di Muaro Jambi pada 1907.
Keduanya kemudian mendapatkan pengakuan sebagai Pahlawan Nasional. Sultan Thaha ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 1977, sedangkan Raden Mattaher dianugerahi gelar tersebut pada 2020. Jejak perjuangan mereka masih dapat ditemukan di Jambi, baik melalui nama tempat dan institusi, makam, situs sejarah, maupun ingatan masyarakat.
Bagi generasi sekarang, kisah mereka bukan sekadar cerita tentang perang melawan penjajah. Lebih dari itu, sejarah Sultan Thaha Syaifuddin dan Raden Mattaher merupakan bagian dari perjalanan masyarakat Jambi dalam mempertahankan martabat, kedaulatan, dan identitas daerahnya.