JAMBI — Tekanan rupiah terlihat di pasar Non-Deliverable Forward (NDF). Pada pukul 07.45 WIB, rupiah NDF berada di sekitar Rp17.649 per dolar AS, cenderung melemah menuju kisaran Rp17.700-an.
Pelemahan tidak hanya dialami rupiah. Won Korea Selatan, baht Thailand, dolar Singapura, yen Jepang, hingga yuan offshore ikut tertekan. Tekanan kali ini bersumber dari sentimen global, bukan faktor domestik.
Harga Minyak di Atas US$100 Per Barel
Minyak Brent berada di kisaran US$107,7 per barel, setelah sempat menyentuh US$109,58 per barel pada akhir pekan. West Texas Intermediate (WTI) bertengger di sekitar US$102,75 per barel, menguat 2,71%.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak dunia berpotensi langsung meningkatkan beban fiskal. Ketika harga minyak rata-rata berada jauh di atas asumsi APBN, pemerintah menghadapi kebutuhan pembiayaan subsidi energi yang lebih besar.
Dalam skenario harga minyak rata-rata US$90 per barel, sementara asumsi APBN berada di sekitar US$70 per barel, tekanan terhadap anggaran negara berpotensi meningkat. Pemerintah harus menyiapkan ruang fiskal lebih besar untuk mengantisipasi kenaikan biaya subsidi dan kompensasi energi.
Probabilitas Kenaikan Fed Fund Rate Capai 86,2%
Pasar semakin memperhitungkan arah kebijakan Federal Reserve. Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) berada di sekitar 86,2%, meningkat dari sekitar 70% sebelum data inflasi Consumer Price Index (CPI) AS dirilis.
Inflasi AS pada Agustus tercatat 3,4% secara tahunan, sesuai ekspektasi dan relatif stagnan dibandingkan Juli. Namun, inflasi bulanan meningkat menjadi 0,4%, jauh di atas posisi Juli yang berada di sekitar 0,07%. Kenaikan harga energi menjadi salah satu faktor yang kembali diperhatikan pasar.
Jika The Fed mengambil sikap lebih hawkish, tekanan terhadap rupiah berpotensi semakin kuat. Indonesia tidak hanya menghadapi risiko arus modal keluar, tetapi juga tekanan dari kenaikan biaya impor energi yang pada akhirnya dapat mendorong inflasi domestik.
Inflasi Agustus Naik ke 3,19%, Ruang BI Menyempit
Data inflasi Indonesia menunjukkan peningkatan tekanan. Inflasi Agustus tercatat 3,19%, naik dari 2,88% pada Juli. Meski masih berada dalam sasaran inflasi BI sebesar 2,5% ± 1%, kenaikan harga minyak yang bertahan tinggi berpotensi membuat tekanan inflasi semakin besar.
Risiko tersebut semakin serius apabila kenaikan harga minyak pada akhirnya ditransmisikan ke harga bahan bakar minyak (BBM), termasuk BBM bersubsidi. Dampaknya tidak berhenti pada sektor energi, tetapi dapat merembet ke biaya transportasi, logistik, pangan, dan berbagai kebutuhan masyarakat.
Bank Indonesia sebelumnya mempertahankan BI Rate di level 5,75%. Bank sentral juga telah menggarisbawahi kenaikan FFR, imbal hasil US Treasury, serta penguatan dolar AS sebagai risiko global yang dapat menekan daya tarik aset negara berkembang.
Proyeksi Pergerakan Rupiah Hari Ini
Untuk perdagangan Senin, rupiah spot diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.600–Rp17.700 per dolar AS. Ruang penguatan menuju Rp17.500–Rp17.600 per dolar AS masih terbuka apabila The Fed memberikan sinyal dovish dan harga minyak dunia kembali mereda.
Namun, selama harga minyak bertahan di atas US$100 per barel dan ekspektasi kebijakan moneter AS tetap ketat, rupiah masih menghadapi jalan terjal. Tekanan tersebut sekaligus menjadi ujian bagi kemampuan pemerintah dan BI menjaga stabilitas nilai tukar tanpa mengorbankan stabilitas harga dan ruang fiskal.
Investasi mengandung risiko.