JAMBI — Acer mengumumkan kebangkitan merek Packard Bell dalam pameran IFA 2026. Nama ini terakhir kali identik dengan menara PC beige, monitor CRT tebal, disket, dan suara modem dial-up di toko elektronik Amerika pada dekade 90-an.
Peluncuran ulang ini membawa bahasa desain yang sama sekali baru: warna oranye, ungu, hijau, dan kuning menggantikan nuansa beige yang dulu melekat. Packard Bell kini berada di bawah naungan Acer Group dan diposisikan sebagai merek teknologi konsumen terjangkau yang mengutamakan fungsi praktis.
"Ide di balik tagline 'Tech it easy' adalah menjaga teknologi sehari-hari tetap sederhana dan menawarkannya dengan harga yang wajar," ujar Valerie Piau, EMEA vice president di Acer Europe SA.
Spesifikasi Utama Laptop DotBook
Produk andalan dari lini baru ini adalah laptop DotBook 14,5 inci. Berikut spesifikasi yang dikonfirmasi Packard Bell:
- Layar: 14,5 inci IPS, resolusi 1.920 x 1.200 piksel
- Prosesor: Intel Core 3 N355
- RAM: hingga 16GB DDR4
- Penyimpanan: hingga 512GB
- Bobot: kurang dari 2,9 pon (sekitar 1,3 kg)
- Baterai: hingga 7 jam
- Harga mulai: €499 (sekitar Rp 8,2 juta)
Spesifikasi tersebut menempatkan DotBook di segmen komputasi sehari-hari, bukan laptop kelas premium. Packard Bell sendiri memasarkannya untuk browsing, streaming, dan tugas ringan harian.
Bukan Cuma Laptop: Ada Turntable hingga Kacamata Audio
Yang lebih mengejutkan, Acer membawa merek Packard Bell jauh melampaui kategori PC. Koleksi perdana mencakup DotLoop, sebuah turntable berbentuk koper, serta DotLine, ponsel fitur 4G.
Ada pula DotLook, kacamata audio, headphone, ring light, dan berbagai aksesori meja. Bahkan ada mini-steamer terkoneksi yang dikembangkan bersama Steasy—sinyal bahwa merek PC era 90-an ini juga ingin menyentuh dapur penggunanya.
Acer menyatakan pelanggan Packard Bell akan mendapat dukungan multibahasa di 28 negara serta akses ke jaringan pusat layanan EMEA yang sudah ada. Namun, pengumuman resmi tidak merinci syarat garansi untuk masing-masing pasar.
Mengapa Pasar Amerika Serikat Dilewatkan
Fokus regional ini terasa janggal mengingat jejak Packard Bell di Amerika Serikat pada masa jayanya. Komputer rumah berbiaya rendah mereka dijual di Sears, Walmart, Best Buy, Circuit City, Costco, dan CompUSA pada awal 1990-an.
Pada 1994, Packard Bell menyalip IBM sebagai produsen PC terbesar ketiga di AS dengan pangsa pasar 11,5 persen. Mesin-mesin itu bukan produk idaman, tetapi memang bukan itu tujuannya—konsumen membawanya pulang, menyiapkan sudut ruangan, dan berharap tidak ada yang perlu menelepon saat sedang online.
Ini bukan kali pertama Acer memainkan kartu nostalgia. Pada 2020, merek Gateway kembali hadir di AS melalui Walmart dengan laptop dan tablet murah berwarna cerah, bertahun-tahun setelah diakuisisi Acer. Langkah itu dimungkinkan setelah Acer membeli 75 persen saham induk Packard Bell senilai US$45,8 juta pada 2008.
Harga dan Ketersediaan
Acer menyebut harga dan ketersediaan dapat berbeda antar pasar dan kanal penjualan. Pengumuman resminya bahkan menyebut waktu peluncuran DotBook yang saling bertentangan, yakni September dan kuartal keempat 2026.
Yang jelas, lini baru Packard Bell hanya akan tersedia di Eropa, Timur Tengah, dan Afrika. Belum ada keterangan apakah rangkaian produk ini akan masuk ke toko-toko AS di kemudian hari.
Bagi pengguna di wilayah EMEA yang mencari laptop ringan untuk kerja harian dengan harga di bawah €500, DotBook bisa masuk daftar pertimbangan—asalkan tidak mengharapkan performa kelas atas. Sementara untuk pasar Indonesia, belum ada indikasi kapan atau apakah lini Packard Bell ini akan hadir secara resmi.