JAMBI — Iga sapi menjadi salah satu potongan daging yang paling dicari saat momen makan bersama keluarga. Tekstur dagingnya yang berlemak membuatnya cocok diolah dengan bumbu pekat, salah satunya sambal pedas manis yang belakangan banyak diburu.
Kunci kelezatan hidangan ini ada pada dua tahap: merebus daging hingga empuk dan memasak sambal sampai bumbu terkaramelisasi. Tanpa keduanya, iga hanya akan jadi daging berbumbu biasa.
Sebelum masuk ke bumbu, siapkan dulu bahan utama dan rempah untuk merebus. Rebusan ini yang menentukan empuk atau tidaknya tekstur iga sebelum dibalur sambal.
Daging iga punya serat kasar dan lapisan lemak yang butuh waktu lama untuk melunak. Merebus dengan daun salam, serai, dan jahe membantu mengurangi bau prengus sekaligus memberi rasa dasar pada daging.
Penggunaan panci presto mempersingkat waktu rebus secara signifikan dibanding panci biasa. Setelah daging empuk, barulah iga siap dibalur sambal dan dimasak hingga bumbu mengental.
Daya tarik utama hidangan ini terletak pada kontras rasa: gurih dari lemak sapi, legit dari gula pada sambal, dan pedas yang menyergap di akhir suapan. Sambal yang dimasak hingga pekat dan berkaramel membuat lapisan bumbu menempel kuat di permukaan daging.
Tekstur daging yang empuk hingga meleleh di mulut berpadu sempurna dengan balutan sambal bumbu pekat. Kombinasi inilah yang membuat sajian iga kerap dianggap hidangan mewah ala restoran, padahal bisa dibuat sendiri di rumah.
Pilih iga sapi yang masih segar dengan warna merah cerah dan lemak yang tidak berbau tengik. Setelah dipresto, tiriskan daging dan biarkan agak kering sebelum dibalur sambal agar bumbu tidak encer.
Saat memasak sambal, gunakan api kecil dan aduk terus supaya gula tidak gosong. Karamel yang terlalu lama di api besar akan berubah pahit dan merusak seluruh rasa hidangan.
Hidangan ini paling pas disajikan hangat bersama nasi putih dan lalapan segar. Sisa sambal bisa disimpan di wadah tertutup untuk dipakai ulang pada olahan daging lain.