JAMBI — PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) meneken perjanjian kerahasiaan dengan FLEXIH Inc. untuk menjajaki produksi hidrogen rendah karbon berbasis gasifikasi plasma di Indonesia. Kesepakatan ini jadi pintu awal bagi kedua perusahaan mengevaluasi biomassa sebagai bahan baku sekaligus peluang investasi. Langkah tersebut menyasar penguatan kemandirian energi sekaligus mendukung dekarbonisasi.
Paragraf pembuka: Penandatanganan NDA itu dilakukan sebagai fondasi hukum sebelum kedua pihak bertukar data dan menyusun rencana kerja sama. Lewat kesepakatan ini, PLN EPI dan FLEXIH akan saling membuka informasi soal potensi biomassa, peluang penyerapan hidrogen (offtake), hingga opsi partisipasi investasi. Seluruh informasi sensitif selama proses evaluasi tetap dijaga kerahasiaannya.
FLEXIH Inc. merupakan perusahaan teknologi energi bersih yang berbasis di Amerika Serikat. Perusahaan ini mengembangkan teknologi modular E-Refinery untuk menghasilkan hidrogen, amonia, serta bahan bakar dan bahan kimia rendah karbon.
Salah satu andalannya adalah gasifikasi plasma. Teknologi ini berpotensi mengolah berbagai jenis bahan baku, termasuk biomassa, menjadi produk energi bernilai tambah. Karakteristiknya dinilai cocok untuk biomassa dengan kadar air relatif tinggi.
Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, menyebut NDA sebagai langkah strategis untuk membangun kepercayaan sekaligus membuka ruang pertukaran informasi. Menurut dia, kesepakatan itu menjadi fondasi hukum dan bentuk komitmen bersama dalam menjaga keamanan informasi sensitif.
"Langkah ini menjadi fondasi hukum serta bentuk komitmen bersama dalam menjaga kerahasiaan dan keamanan informasi sensitif, seiring dengan dimulainya rencana pelaksanaan kerja sama dan pertukaran data antara PLN Energi Primer Indonesia dan FlexiH Inc.," kata Hokkop dalam keterangannya, Rabu (21/10/2026).
PLN EPI selama ini dikenal sebagai anak perusahaan PLN yang menangani pasokan energi primer, terutama batu bara untuk pembangkit. Masuknya perusahaan ke kajian hidrogen dari biomassa menandai perluasan mandat ke rantai energi bersih.
CEO and Founder FLEXIH Inc. Dr. Natarianto Indrawan menilai kolaborasi menjadi faktor penting dalam pengembangan teknologi energi masa depan. Menurut dia, pengembangan energi tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri dan perlu menghubungkan potensi sumber daya dengan kebutuhan industri.
"Indonesia memiliki kekayaan biomassa yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah lebih tinggi. Dengan pendekatan teknologi yang tepat, potensi tersebut dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat kemandirian energi sekaligus mendukung dekarbonisasi," ungkap Natarianto.
Pernyataan itu menempatkan biomassa sebagai sumber daya domestik yang bisa diolah menjadi produk energi bernilai jual, bukan sekadar bahan bakar mentah. Bagi Indonesia, pendekatan ini beririsan dengan agenda pengurangan impor energi sekaligus target penurunan emisi sektor energi.
Kedua perusahaan akan mengevaluasi tiga hal utama: kecocokan biomassa sebagai bahan baku, kepastian pembeli hidrogen yang dihasilkan, dan opsi partisipasi investasi. Hasil evaluasi itu yang akan menentukan apakah kerja sama berlanjut ke tahap fasilitas produksi komersial.
Bagi pembangkit dan industri pengguna hidrogen, proyek semacam ini berpotensi jadi alternatif pasokan di masa depan. Namun semuanya masih bergantung pada hasil kajian teknis dan keekonomian yang belum diumumkan.
Penutup: Bagi PLN EPI, penjajakan ini memperluas portofolio dari energi primer fosil ke rantai hidrogen rendah karbon. Bila berlanjut, proyek gasifikasi plasma berbasis biomassa bisa menjadi salah satu jalur dekarbonisasi yang memanfaatkan sumber daya lokal, bukan teknologi impor sepenuhnya.