JAMBI — Anak-anak era 1990-an tumbuh dengan banyak waktu bermain di luar rumah dan sedikit layar, dan kini banyak ibu muda ingin menghadirkan kembali suasana sederhana itu. Ada lima cara praktis yang bisa dicoba di rumah, mulai dari membatasi gawai hingga memberi ruang bosan, untuk anak usia balita sampai sekolah dasar.
Membatasi waktu layar jadi langkah pertama yang paling sering dibahas. Anak yang dibiarkan bermain gim atau media sosial tanpa batas kehilangan kesempatan berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitarnya.
Orang tua bisa mengatur jadwal pemakaian gawai agar anak tetap punya waktu bermain, belajar, dan mengobrol dengan anggota keluarga. Pemberian ponsel pribadi pun sebaiknya ditunda sampai anak dinilai siap memakainya secara bertanggung jawab.
Sesuaikan juga dengan ketentuan batas usia yang berlaku di setiap platform media sosial, supaya anak tidak terpapar konten di luar usianya.
Sebelum hiburan digital berkembang pesat, keluarga dan teman sebaya jadi bagian penting dalam keseharian anak. Kebiasaan itu bisa dihidupkan lagi lewat kegiatan yang mendorong interaksi langsung.
Ajak anak bermain permainan papan, menyusun balok seperti Lego, membaca buku, atau beraktivitas kreatif bersama. Selain menghibur, kegiatan ini membangun komunikasi yang lebih dekat antara orang tua dan anak.
Kalau punya lebih dari satu anak, permainan bersama juga jadi kesempatan mempererat hubungan persaudaraan.
Kebiasaan berkumpul menciptakan kedekatan emosional sekaligus rasa aman bagi anak. Pada era 1990-an, menonton film bersama jadi pilihan hiburan keluarga yang murah dan sederhana.
Kini kebiasaan serupa tetap bisa dilakukan dengan memilih film dari layanan streaming. Tambahkan pula makan malam bersama, mengobrol sebelum tidur, atau merencanakan liburan secara berkala.
Ritual keluarga seperti ini membantu anak merasakan lingkungan yang aman dan rutinitas yang dapat diprediksi, seperti dikutip dari Capsule NZ.
Tidak setiap waktu anak harus diisi les, kegiatan belajar, atau hiburan yang sudah direncanakan. Sesekali, waktu luang tanpa aktivitas khusus justru bagian dari proses tumbuh kembang.
Saat tidak terus-menerus mendapat rangsangan dari layar atau kegiatan terstruktur, anak punya ruang mengeksplorasi imajinasi dan menemukan cara sendiri mengisi waktu. Anak bisa menciptakan permainan, menggambar, menyusun benda, atau mencari kegiatan baru sesuai minatnya.
Waktu luang semacam ini mendukung kreativitas dan kemampuan memecahkan masalah. Orang tua tak perlu selalu menyediakan hiburan, cukup mendampingi saat anak butuh bantuan.
Bermain di luar rumah jadi pengalaman khas masa kecil era 1990-an. Kegiatan ini memberi anak kesempatan bergerak aktif, mengenal lingkungan, dan belajar berinteraksi dengan orang lain.
Orang tua masa kini bisa memberikan kesempatan serupa dengan tetap mempertimbangkan usia, kondisi lingkungan, dan faktor keselamatan. Tetapkan aturan yang mudah dipahami, seperti batas wilayah bermain, waktu pulang, serta kewajiban memberi tahu orang tua soal keberadaan mereka.
Dengan kebebasan yang disertai pengawasan sesuai kebutuhan, anak belajar mengambil keputusan, memahami tanggung jawab, dan membangun kemandirian secara bertahap.
Setiap anak punya temperamen dan kebutuhan berbeda, jadi tidak semua cara di atas cocok diterapkan serentak. Anak dengan kebutuhan khusus, misalnya, mungkin perlu pendampingan lebih intens saat bermain di luar atau saat mengurangi waktu layar.
Kalau ibu melihat anak menunjukkan tanda stres berlebihan, sulit tidur, atau menarik diri setelah perubahan rutinitas, konsultasikan dengan dokter anak atau psikolog anak. Penyesuaian kecil biasanya lebih mudah dijalani daripada perubahan besar sekaligus.
Menghidupkan pola asuh ala 1990-an bukan berarti meninggalkan seluruh kemajuan teknologi. Nilai positif dari masa itu, seperti kebersamaan, kesederhanaan, kreativitas, dan kemandirian, tetap bisa diambil dan disesuaikan dengan kondisi anak sekarang.