Stok Pertalite Nasional Turun Jadi 16–18 Hari Gara-Gara Peralihan BBM Nonsubsidi

Penulis: Zulkarnain Hamid  •  Jumat, 16 Oktober 2026 | 14:05:31 WIB
Ketahanan stok Pertalite nasional turun menjadi 16–18 hari akibat peralihan konsumen dari BBM nonsubsidi RON 92 dan RON 95.

JAMBI — Ketahanan stok Pertalite nasional turun dari biasanya di atas 20 hari menjadi sekitar 16–18 hari akibat peralihan konsumen dari BBM nonsubsidi RON 92 dan RON 95. Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia memastikan penurunan itu masih memenuhi standar minimal dan stok jenis BBM lain aman. Pemerintah memperkirakan ketahanan stok kembali ke 20 hari dalam sepekan.

Pemerintah mencatat pergeseran pola konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di masyarakat sebagai penyebab utama turunnya ketahanan stok Pertalite. Bahlil menjelaskan, selisih harga antara Pertalite dan bensin nonsubsidi menjadi pemicu utama peralihan tersebut. Harga Pertalite dibanderol Rp 10.000 per liter, sementara Pertamax (RON 92) Rp 15.950 per liter dan Pertamax Green (RON 95) Rp 19.150 per liter.

Selisih Harga Rp 5.950 per Liter Pemicu Peralihan

Bahlil menyebut jarak harga yang cukup ekonomis membuat pengguna RON 92 dan RON 95 berbondong-bondong beralih ke RON 90. "Yang terjadi pergeseran ketahanan stok menjadi 16–18 hari itu adalah RON 90. Kenapa itu terjadi? Karena terjadinya shifting yang tadinya orang pakai RON 92 dan 95, itu di-shifting ke 90 karena harganya kan bedanya cukup ekonomis," ujar Bahlil dalam konferensi pers di Sekretariat Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (16/10/2026).

Pergeseran ini membuat permintaan Pertalite melonjak, sedangkan stok nasional belum sepenuhnya menyesuaikan pasokan. Bahlil menegaskan kondisi stok Solar serta bensin RON 92, RON 95, dan RON 98 tidak mengalami persoalan.

Stok 16–18 Hari Masih di Atas Standar Minimal

Ketahanan stok nasional selama 16–18 hari dinilai masih memenuhi standar minimal yang ditetapkan pemerintah. Bahlil memperkirakan angka tersebut bisa kembali naik ke sekitar 20 hari dalam waktu kurang lebih sepekan, seiring proses pencampuran BBM di kilang dan penyesuaian pasokan.

"Secara standar nasional oke. Mungkin untuk mencapai di angka 20 hari itu ya kita butuh waktu seminggu. Seminggu selesai. Tapi di 16-18 hari itu kan bukan berarti kita kekurangan standar minimal," jelas Bahlil.

Antrean di Bali dan Sulawesi Tenggara, Ini Penyebabnya

Pemerintah menerima laporan antrean dan kelangkaan BBM di sejumlah daerah, termasuk Bali dan Sulawesi Tenggara. Bahlil menyebut persoalan yang dilaporkan Pertamina bukan terletak pada ketersediaan stok di kilang, melainkan pada jalur distribusi. Pengiriman BBM dari Jawa Timur menuju Bali yang bergantung pada transportasi laut menjadi titik masalah utama.

"Stoknya enggak ada masalah. Dari kilangnya enggak ada masalah. Yang bermasalah itu adalah jalur distribusinya, makanya kita nambah kapal," kata Bahlil.

Pertamina Diminta Tambah Kapal Pengangkut BBM

Untuk mempercepat penyaluran, Bahlil meminta Pertamina menambah jumlah kapal pengangkut BBM. Langkah tersebut diharapkan mengurangi hambatan pengiriman dan mencegah gangguan pasokan berlarut-larut di wilayah yang bergantung pada distribusi antarpulau.

Penambahan armada kapal dinilai krusial karena sejumlah daerah kepulauan masih mengandalkan pasokan BBM dari luar wilayahnya. Distribusi lewat jalur laut menjadi penentu utama apakah antrean di SPBU bisa segera terurai atau justru meluas ke daerah lain.

Reporter: Zulkarnain Hamid
Sumber: investortrust.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top