Industri Logam Dasar Pimpin Realisasi Investasi Semester I 2026 Capai Rp150,4 Triliun

Penulis: Ahmad Syukri  •  Senin, 12 Oktober 2026 | 11:36:01 WIB
Industri logam dasar mencatat realisasi investasi tertinggi pada Semester I 2026 sebesar Rp150,4 triliun.

JAMBI — Subsektor industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya mencatat realisasi investasi terbesar pada Semester I 2026 dengan nilai Rp150,4 triliun. Capaian itu setara 14,9% dari total penanaman modal dan mencerminkan dorongan hilirisasi mineral yang makin deras. Peringkat berikutnya ditempati jasa lainnya dan pertambangan dengan nilai masing-masing Rp114,0 triliun dan Rp105,0 triliun.

Laporan Capaian Realisasi Investasi Periode Triwulan II dan Semester I 2026 yang dirilis Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menempatkan industri logam dasar di posisi puncak. Realisasi subsektor ini jauh meninggalkan subsektor lain, sejalan dengan upaya pemerintah memperkuat industri pengolahan dalam negeri, terutama besi dan baja.

Secara keseluruhan, total realisasi penanaman modal pada periode tersebut terbagi hampir merata antara investasi asing dan dalam negeri. Investasi asing tercatat Rp507,64 triliun, sementara investasi dalam negeri Rp502,93 triliun. Realisasi itu diiringi penyerapan tenaga kerja sebanyak 1,45 juta jiwa sepanjang Semester I 2026.

Lima Subsektor dengan Realisasi Investasi Terbesar

Peringkat lima besar subsektor investasi menunjukkan konsentrasi modal pada sektor pengolahan, jasa, dan infrastruktur. Berikut rinciannya:

  • Industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya: Rp150,4 triliun (14,9% dari total investasi)
  • Jasa lainnya: Rp114,0 triliun (11,3%)
  • Pertambangan: Rp105,0 triliun (10,4%)
  • Transportasi, gudang, dan telekomunikasi: Rp102,7 triliun (10,2%)
  • Perumahan, kawasan industri, dan perkantoran: Rp85,8 triliun (8,5%)

Hilirisasi Mineral Jadi Motor Utama

Posisi industri logam dasar di puncak tidak lepas dari agenda hilirisasi yang dijalankan pemerintah. Kementerian Investasi mencatat capaian ini sejalan dengan upaya mendorong pengolahan mineral di dalam negeri, termasuk besi dan baja, untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam.

Di subsektor pertambangan yang menempati peringkat ketiga, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sepanjang Semester I 2026 menata tata kelola mineral dan batu bara. Penataan itu diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah sekaligus menyejahterakan masyarakat sekitar tambang.

Jasa Lainnya dan Ekonomi Digital

Subsektor jasa lainnya berada di peringkat kedua dengan realisasi Rp114,0 triliun atau 11,3% dari total. Kategori ini mencakup beragam kegiatan, mulai dari web hosting, pusat data (data center), dan portal web hingga layanan rumah sakit.

Adapun subsektor transportasi, gudang, dan telekomunikasi mencatat Rp102,7 triliun atau menyumbang 10,2%. Pengembangan infrastruktur digital dan konektivitas disebut menjadi fokus realisasi ke depan, seiring meningkatnya kebutuhan ekonomi digital serta pergerakan barang dan jasa antardaerah.

Properti Ditopang PMDN dan Perkantoran Premium

Subsektor perumahan, kawasan industri, dan perkantoran menutup daftar lima besar dengan realisasi Rp85,8 triliun atau berkontribusi 8,5%. Jumlah ini ditopang dominasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) di sektor properti.

Minat investor terhadap aset perkantoran premium yang menawarkan pendapatan stabil turut menjadi penopang. Bagi pelaku usaha dan investor, sebaran realisasi ini memberi gambaran ke mana arus modal bergerak pada paruh pertama 2026 dan sektor mana yang paling siap menyerap ekspansi berikutnya.

Reporter: Ahmad Syukri
Sumber: data.goodstats.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top