JAMBI — Demam, sariawan, atau tenggorokan nyeri sering membuat anak menolak makan sama sekali. WHO dan IDAI menegaskan asupan cairan tetap jadi prioritas utama saat nafsu makan turun. Berikut tujuh cara praktis yang bisa Bunda coba di rumah tanpa memaksa si Kecil.
Nafsu makan anak yang drop saat sakit bukan tanda ia rewel tanpa alasan. Tubuh sedang fokus melawan infeksi, jadi energi yang biasanya dipakai untuk mencerna makanan dialihkan ke sistem imun. American Academy of Pediatrics (AAP) lewat laman Healthy Children menyebut penurunan nafsu makan ini sebagai hal umum.
Yang perlu lebih diawasi justru asupan cairannya. Kurang minum saat sakit bisa memicu dehidrasi, terutama bila anak demam, muntah, atau diare.
Saat demam, anak merasa tidak nyaman dan cepat lelah. Ia lebih memilih tidur atau sekadar minum ketimbang mengunyah makanan.
Keluhan lain seperti nyeri tenggorokan, sariawan, mual, muntah, diare, atau sakit perut membuat proses makan terasa menyiksa. WHO menjelaskan anak bisa makan lebih sedikit karena tidak merasa lapar atau merasakan sakit di mulut dan tenggorokan.
Kalau anak belum mau makan, jangan langsung memaksa ia menghabiskan sepiring nasi. Dikutip dari What to Expect, pastikan dulu cairannya cukup.
Tawarkan air putih, ASI, atau susu sesuai kebiasaan dan usia anak. Bila ia diare atau muntah, dokter biasanya merekomendasikan larutan oralit untuk mengganti cairan dan elektrolit yang hilang. IDAI menekankan pentingnya memberi minum sesering mungkin selama sakit.
Porsi penuh justru bikin anak merasa tidak sanggup dan makin mual. Coba tawarkan beberapa sendok makan lebih dulu.
Kalau ia masih mau, tambahkan bertahap. Pola makan kecil-sering ini sejalan dengan rekomendasi WHO untuk anak yang sedang sakit.
Tekstur lembut dan rasa familiar lebih mudah diterima anak saat sakit. Bubur, sup, kentang halus, telur, atau pisang bisa jadi pilihan.
Sesuaikan dengan kondisinya. Kalau mulut atau tenggorokannya sakit, makanan yang terlalu asam atau manis justru bikin tidak nyaman.
Anak yang pusing, sariawan, atau mual lebih nyaman makan makanan lunak bertekstur halus. Hindari dulu makanan yang keras atau berserat kasar.
Kalau hidungnya tersumbat, bersihkan dulu agar ia lebih mudah bernapas dan nyaman saat makan.
IDAI menganjurkan orang tua menyediakan suasana makan yang menyenangkan, bukan tegang. Kalau anak menutup mulut, memalingkan kepala, atau menangis, beri waktu sejenak.
Hindari melabeli makanan sebagai "baik" atau "buruk". Ahli gizi anak Charlotte Stirling Reed mengingatkan cara pandang ini bisa memengaruhi hubungan anak dengan makanan ke depannya.
"Cobalah bersikap netral. Hindari kalimat, 'Kalau kamu makan itu, kamu akan dapat hadiah atau hukuman'. Kalimat-kalimat seperti itu bisa berdampak sangat negatif pada anak-anak," katanya.
Memaksa hanya membuat anak makin menolak dan bisa menciptakan trauma makan. Fokuskan pada apa yang ia mau konsumsi, sekecil apa pun porsinya.
Selama cairan tercukupi dan ia masih buang air kecil normal, kondisi ini biasanya membaik seiring redanya sakit.
Setelah sakit reda, anak dianjurkan tetap makan lebih sering untuk menggantikan nutrisi yang hilang selama masa sakit. Ini membantu mempercepat pemulihan dan mengembalikan berat badannya.
IDAI mengingatkan masalah makan yang berlangsung lama bisa menurunkan asupan kalori anak. Dampaknya bisa memengaruhi berat badan, pertumbuhan, hingga perkembangan si Kecil.
Segera bawa anak ke dokter bila ia menolak minum sama sekali, tanda dehidrasi muncul (mata cekung, mulut kering, jarang pipis), atau demamnya tidak turun dalam beberapa hari. Penurunan berat badan yang signifikan juga perlu evaluasi medis.
Yang terpenting, Bunda tidak perlu panik. Selama cairan dan nutrisi tetap ditawarkan dengan sabar, tubuh anak punya bekal cukup untuk pulih kembali.