JAMBI — Bola Adidas Jabulani yang dulu dicaci pemain top dunia kini diburu atlet footgolf dengan harga di atas £500 per buah. Desain delapan panel yang bikin lintasannya tak terkendali di Piala Dunia 2010 justru jadi keunggulan di olahraga presisi ini.
Ben Clarke, petenis nomor satu dunia footgolf, rutin memompa koleksi bola Jabulani miliknya setiap bulan. Bola-bola itu disimpan rapi, sebagian masih dalam kotak asli, belum pernah tersentuh sepatu.
Dalam olahraga yang menuntut pemain memasukkan bola ke 18 lubang raksasa dengan jumlah pukulan paling sedikit, akurasi adalah segalanya. Clarke memegang peringkat teratas dunia footgolf sebanyak lima kali.
Fabio Capello, mantan pelatih timnas Inggris, pernah menyebut Jabulani sebagai "bola terburuk yang pernah saya lihat dalam hidup saya". Kiper Inggris David James menyebutnya "mengerikan". Kiper Brasil Júlio César bilang bola itu "seperti yang dibeli di supermarket". Penyerang Brasil Robinho bahkan menilai "orang yang mendesain bola ini tidak pernah bermain sepak bola".
Kritik itu muncul karena lintasan Jabulani di Piala Dunia 2010 sulit diprediksi. Namun 16 tahun kemudian, bola yang sama justru jadi incaran utama para footgolfer elit.
Jabulani dibuat dari delapan panel yang direkatkan dengan panas, berkurang dari 14 panel pada Teamgeist di Piala Dunia 2006. Jumlah sambungan yang minim membuat permukaannya lebih halus dan bulat dibanding bola mana pun pada masanya.
Saat ditendang tanpa putaran pada kecepatan tinggi, bola ini menghasilkan efek knuckleball yang membuat arahnya berubah mendadak. Sebaliknya, pemain footgolf menendang dengan sisi dalam kaki untuk menghasilkan putaran konsisten. Sambungan yang minim membuat Jabulani melaju lebih jauh dari bola lain.
Hanya varian Adidas dari era yang sama seperti Teamgeist, Terrapass, Speedcell, dan Torfabrik yang bisa mendekati performa Jabulani.
Tak satu pun dari model-model itu diproduksi selama hampir 15 tahun terakhir. Permintaan tinggi dari footgolf elit bertemu pasokan yang menipis, membuat harga meroket.
"Bola-bola ini makin langka dan makin mahal," kata Clarke, yang memiliki tiga Jabulani masih dalam kotak. "Saya sudah beberapa tahun tidak membeli, karena harganya. Biasanya dapat dari pemain footgolf lain atau kolektor yang menjual karena melihat pasar footgolf."
Clarke terakhir membeli Jabulani sekitar £250 tiga tahun lalu. Kini harga satu bola menyentuh £500 atau lebih. "Bisa jadi kesalahan mahal kalau bola ditendang ke pohon dan pecah," ujarnya.
Sean Rontree, direktur federasi footgolf Inggris, memiliki tiga Jabulani dan tiga Speedcell dalam koleksi pribadinya. Ia memperkirakan pasar bola ini akan segera habis.
"Akan tiba waktunya tidak ada lagi yang tersedia di pasar," kata Rontree. "Adidas tidak akan mau memproduksi lagi. Kami sudah bicara dengan mereka, tapi jumlah yang mereka minta agar menguntungkan sekitar 10.000 bola, di luar jangkauan kami."
Kelangkaan ini memicu perlombaan. Menargetkan 1.200 pemain yang berlaga di Piala Dunia Footgolf di Meksiko musim panas lalu, sejumlah pengusaha mencoba menciptakan bola khusus yang bisa menyaingi Jabulani.
Merek seperti FGB (Malaysia), Squb (Belanda), Triero (Inggris), dan Birdie (Brasil) merilis bola khusus footgolf dengan harga sekitar £100.
"Secara keseluruhan, bola kami lebih unggul dari sisi kualitas dan tidak perlu perbaikan," kata pendiri FGB, Jeffrey Cottam, yang perusahaannya kini memasuki generasi ketiga bola. "Tapi untuk mengalahkan Jabu, saya rasa belum ada yang sampai."
Cottam mengakui jarak tempuh jadi tantangan terbesar. Bola produksinya tertinggal lima hingga tujuh meter dari Jabulani. "Kami ingin meniru pantulan Jabu, karena bola itu terus memantul di fairway," katanya. "Saya coba keluarkan bola tahun depan yang mengalahkan Jabu di semua aspek."
Clarke tetap realistis. Ia tahu olahraga ini tidak bisa bergantung selamanya pada stok bola yang terbatas dan mulai rusak. Sampai penerus sejati muncul, ia akan terus menjalani ritual bulanan merawat koleksi Jabulani yang makin berkurang.
"Aneh juga apa yang harus kami lakukan untuk memperpanjang umur sebuah bola, supaya tetap ada saat dibutuhkan," ujarnya.