Pengeluaran Warga Muaro Jambi untuk Oncom Turun Jadi Rp7 per Kapita per Minggu pada 2025

Penulis: Faisal Zuber  •  Minggu, 20 September 2026 | 09:01:01 WIB

MUARO JAMBI — Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pengeluaran rata-rata penduduk Kabupaten Muaro Jambi untuk membeli oncom pada 2025 hanya Rp7 per kapita per minggu. Angka itu merosot dibandingkan 2024 yang masih Rp35 per kapita per minggu.

Di tingkat nasional, rata-rata pengeluaran per kapita untuk oncom mencapai Rp189 per kapita per minggu. Artinya, belanja warga Muaro Jambi untuk oncom jauh di bawah rata-rata nasional.

Dalam daftar kabupaten/kota se-Indonesia, Muaro Jambi berada di urutan 230 untuk pengeluaran oncom. Posisi tertinggi dipegang Kabupaten Kuningan, sementara yang terendah adalah Kabupaten Bima.

Sepuluh Daerah dengan Belanja Oncom Tertinggi

Kabupaten Kuningan memimpin dengan pengeluaran Rp224,0 per kapita per minggu, disusul Kabupaten Pesisir Barat Rp199,0 dan Kabupaten Indramayu Rp194,0.

  • Kabupaten Kuningan Rp224,0
  • Kabupaten Pesisir Barat Rp199,0
  • Kabupaten Indramayu Rp194,0
  • Kabupaten Bekasi Rp178,0
  • Kota Jakarta Selatan Rp172,0
  • Kota Bandar Lampung Rp170,0
  • Kabupaten Sumedang Rp169,0
  • Kabupaten Karawang Rp166,0
  • Kabupaten Majalengka Rp163,0
  • Kota Bogor Rp158,0

Oncom Kalah Jauh dari Tahu dan Tempe

Di kelompok kacang-kacangan, warga Muaro Jambi justru membelanjakan jauh lebih besar untuk tahu dan tempe. Pengeluaran untuk tahu mencapai Rp1.786 per kapita per minggu, sedangkan tempe Rp1.776 per kapita per minggu.

Untuk kacang lainnya, pengeluaran tercatat Rp40 per kapita per minggu. Kacang tanah tanpa kulit Rp34 per kapita per minggu, dan kacang kedele hanya Rp1 per kapita per minggu.

Inflasi 4,5 Persen Tekan Belanja Pangan

BPS menyebut penurunan pengeluaran oncom di Muaro Jambi tidak lepas dari inflasi bulanan (month to month) di wilayah itu yang mencapai 4,5 persen. Pertumbuhan ekonomi 2025 di kabupaten tersebut juga tercatat 4,5 persen.

Metode penghitungan pengeluaran per kapita dilakukan dengan membagi total konsumsi seluruh anggota rumah tangga selama sebulan dengan jumlah anggota rumah tangga. Konsumsi makanan dihitung per minggu, sedangkan non-makanan per bulan dan 12 bulan terakhir, lalu dikonversikan ke rata-rata bulanan.

Angka yang disajikan BPS berasal dari hasil bagi jumlah konsumsi seluruh rumah tangga terhadap jumlah penduduk. Data ini menjadi salah satu indikator pola konsumsi pangan masyarakat di tingkat kabupaten/kota.

Reporter: Faisal Zuber
Sumber: databoks.katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top