Menteri Nusron Ajak Kampus STPN Sleman Undang Tokoh Kritis, Sebut Dialektika Berpikir Tak Boleh Mati

Penulis: Rizal Hamdani  •  Kamis, 10 September 2026 | 11:31:02 WIB
Menteri ATR/BPN Nusron Wahid memberikan sambutan dalam kuliah umum di Politeknik Agraria STPN Sleman.

SLEMAN — Nusron menilai ruang akademik harus tetap terbuka bagi perbedaan pendapat. Menurutnya, keberagaman pemikiran bisa hadir melalui forum kuliah umum yang mempertemukan berbagai pandangan. Ia pun meminta civitas kampus tidak membatasi siapa pun yang ingin diundang.

"Tradisi dialektika berpikir, tidak boleh mati di mana pun kita berada. Sebagai insan akademik di kampus ini, meskipun kampus ini adalah sekolah semi-kedinasan, saya minta untuk tidak segan-segan untuk mengundang berbagai tokoh dari level mana pun yang sifatnya itu kritik dan kritis terhadap negara. Termasuk kritis terhadap kebijakan kita," ujar Menteri Nusron saat memberikan sambutan.

Filsafat Apel dan Nilai Tukar Gagasan

Nusron menggambarkan manfaat pertukaran pikiran lewat perumpamaan yang ia sebut "filsafat apel", merujuk pemikiran Bernard Shaw. Ia membandingkan pertukaran buah dengan pertukaran gagasan.

"Kalau ada dua orang, saya sama Rocky, masing-masing punya sebuah apel, kemudian kita tukarkan masing-masing apel kita, Rocky memberikan apelnya kepada saya, saya memberikan apel saya kepada Rocky, maka jadinya tetap sama, masing-masing tetap hanya memiliki satu buah apel," jelasnya.

Hasilnya berbeda ketika yang dipertukarkan adalah pemikiran. Dua orang dengan pandangan berbeda, kata Nusron, justru akan sama-sama bertambah perspektifnya.

"Tetapi kalau kita mempunyai dua pemikiran yang berbeda, kemudian pemikiran itu kita saling tukarkan, maka jadinya kita mempunyai dua buah pemikiran yang berbeda," tuturnya.

Rocky Gerung: Pikiran Harus Dibantah

Rocky Gerung hadir sebagai pembicara dalam forum yang sama. Ia menekankan pentingnya perdebatan dalam proses pertukaran gagasan.

"Pikiran, kuliah umum, kalau tidak ada yang bantah, dia jadi doa. Doa nggak boleh dibantah, pikiran harus dibantah. Itu bedanya," ujar Rocky.

Di hadapan para taruna dan taruni, Rocky menjelaskan pendekatan filosofis yang ia pakai untuk mengajak peserta menelusuri akar berbagai konsep.

"Saya sengaja mengambil cara berpikir filosofi untuk membongkar akarnya. Supaya ada konsep-konsep radikal. Kita membongkar tanah untuk menemukan akar. Kita membongkar pikiran supaya tidak ada yang disembunyikan secara politis. Itu intinya," pungkasnya.

Tiga Pemaknaan Tanah bagi Masyarakat Adat, Negara, dan Korporasi

Dalam kuliah umum tersebut, Rocky menyampaikan tiga konsep pemaknaan pengelolaan tanah. Bagi masyarakat adat, tanah dinilai memiliki nilai magis karena berkaitan dengan kehidupan dan warisan leluhur.

Bagi negara, tanah memiliki fungsi sosial yang diwujudkan melalui pengaturan dan hukum. Sementara bagi korporasi, tanah dipandang sebagai komoditas bernilai bisnis.

Kegiatan itu diikuti sejumlah Pejabat Pimpinan Tinggi Madya dan Pratama Kementerian ATR/BPN, Plt. Direktur Politeknik Agraria STPN, seluruh Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi beserta jajaran, dan lebih dari 500 taruna/i Politeknik Agraria STPN.

Nusron berharap tradisi kuliah umum dan dialektika berpikir di kampus itu terus hidup sebagai ruang berbagi pendapat. Menurutnya, kebiasaan itu akan memperkaya cara pandang mahasiswa.

"Sharing pendapat itu akan menjadikan kita mempunyai kaya akan pendapat dan kaya akan hasrat," kata Menteri Nusron.

Reporter: Rizal Hamdani
Sumber: jambiindependent.disway.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top