JAMBI — Pelatihan yang berlangsung sejak Juni hingga Agustus 2026 tersebut tidak hanya membekali peserta dengan teknik membatik kontemporer, tetapi juga keterampilan kewirausahaan. Hesti Haris menyebut bahwa inovasi pada batik kontemporer tetap mempertahankan motif budaya Indonesia, namun tampil lebih modern agar sesuai selera pasar muda.
Hesti Haris menegaskan bahwa hasil karya para peserta tidak akan berhenti di ruang pelatihan. Rencananya, karya batik kontemporer tersebut akan diperkenalkan ke publik melalui peragaan busana atau fashion show pada berbagai kegiatan Dekranasda Provinsi Jambi.
“Karya-karya ini akan kami tampilkan dalam berbagai kesempatan. Kami ingin masyarakat mengetahui bahwa anak-anak muda Jambi mampu menghasilkan batik kontemporer yang kreatif, berkualitas, dan memiliki daya saing,” ujar Hesti dalam sambutannya.
Menurut Hesti, keunikan batik kontemporer terletak pada nilai artistiknya yang lahir dari goresan tangan masing-masing pembuat. Meski tetap berakar pada motif batik sebagai identitas budaya, sentuhan kontemporer membuat produk lebih diminati kalangan muda.
“Inovasi harus terus dilakukan. Batik kontemporer tetap berakar pada budaya Indonesia, namun tampil lebih modern sehingga mampu mengikuti perkembangan selera pasar,” tambahnya.
Dalam kesempatan itu, Hesti berpesan agar para peserta terus menjaga kualitas produk. Ia menekankan bahwa keberhasilan usaha ditentukan oleh mutu karya yang mampu memenuhi kebutuhan pasar.
“Orang membeli bukan karena rasa kasihan, tetapi karena produk yang dihasilkan memang berkualitas. Karena itu teruslah belajar, berinovasi, dan menjaga mutu setiap karya yang dibuat,” pesannya.
Ia juga mengungkapkan bahwa hasil karya peserta akan dipromosikan dalam rangkaian Syukuran Dekranasda Provinsi Jambi. Acara tersebut menjadi momentum memperkenalkan wastra, kriya, dan produk unggulan dari para perajin di seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Jambi.
Hesti menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah serta Dekranas Pusat atas dukungan program ini. Ia berharap pelatihan serupa dapat terus berlanjut, khususnya bagi generasi muda yang belum melanjutkan pendidikan formal.
“Tujuan utama kita adalah meningkatkan ekonomi para pelaku UMKM melalui pengembangan wastra dan kriya daerah. Di sisi lain, kita juga terus mengangkat budaya Indonesia. Batik adalah identitas bangsa yang harus terus kita lestarikan dan banggakan sebagai karya anak negeri,” tutup Hesti Haris.