TEBO — Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa satu dari sepuluh warga Kabupaten Tebo masih mengalami kekurangan asupan pangan untuk memenuhi kebutuhan energi harian. Angka ini mengalami penurunan tipis sebesar 0,82 poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 11,03 persen, namun dalam lima tahun terakhir justru naik 0,28 poin persentase.
Berdasarkan data BPS yang dirilis baru-baru ini, Prevalensi Ketidakcukupan Konsumsi Pangan atau Prevalence of Undernourishment (PoU) di Tebo menempatkan kabupaten ini di peringkat keenam dari 10 kabupaten/kota di Provinsi Jambi. Indikator PoU digunakan untuk mengukur kondisi kerawanan pangan dan gizi suatu wilayah.
Kota Sungai Penuh mencatatkan PoU tertinggi di Provinsi Jambi yaitu 12,81 persen, disusul Kabupaten Kerinci 12,15 persen, dan Tanjung Jabung Timur 11,85 persen. Sementara itu, Kabupaten Muaro Jambi menjadi daerah dengan angka terendah yaitu 8,04 persen, lebih baik dari rata-rata nasional.
Berikut peringkat lengkap PoU 10 kabupaten/kota di Jambi pada 2025:
Badan Pangan Nasional (Bapanas) mendefinisikan PoU sebagai kondisi di mana seseorang secara rutin mengonsumsi pangan dalam jumlah yang tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan energi guna menjalani kehidupan yang normal, aktif, dan sehat. Artinya, sebanyak 10,21 persen dari total penduduk Tebo setiap hari tidak mendapatkan asupan kalori yang dibutuhkan tubuh.
Meski turun dibanding tahun sebelumnya, angka ini masih perlu menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Sebab dalam lima tahun terakhir, trennya justru menunjukkan kenaikan, berbeda dengan tren nasional yang cenderung menurun.
Data ini menjadi indikator awal untuk mengevaluasi efektivitas program ketahanan pangan dan intervensi gizi yang berjalan di Tebo. Pemerintah kabupaten diharapkan dapat merumuskan kebijakan yang lebih tepat sasaran, terutama di desa-desa dengan akses pangan terbatas.