Kenaikan Harga Pertamax Diprediksi Tekan Belanja Kelas Menengah di Jambi, Ekonom: Dampak ke Inflasi Terbatas

Penulis: Ahmad Syukri  •  Jumat, 12 Juni 2026 | 19:56:31 WIB
Kenaikan harga Pertamax mulai mempengaruhi pola belanja rumah tangga kelas menengah di Jambi.

JAMBI — Kenaikan harga Pertamax sebesar 32 persen dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter mulai berdampak pada pola konsumsi rumah tangga kelas menengah. Ekonom Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, menyebut kelompok menengah hingga menengah atas menjadi pihak paling terdampak karena mayoritas pengguna Pertamax berasal dari segmen ini.

Dampak Langsung ke Dompet: Liburan dan Makan di Luar Ditunda

Rahma menjelaskan, kebutuhan bensin bersifat inelastis dalam jangka pendek. Masyarakat tetap harus bekerja dan bermobilitas, sehingga alokasi anggaran transportasi otomatis membengkak. Akibatnya, ruang belanja untuk kebutuhan nonprimer menyempit.

“Akan berdampak pada penundaan belanja non-esensial. Rumah tangga kelas menengah kemungkinan besar akan menahan atau mengurangi konsumsi pada sektor sekunder dan tersier, seperti liburan, hiburan, food and beverage atau makan di luar, atau barang elektronik,” kata Rahma saat dihubungi Antara di Jakarta, Jumat.

Beban Ganda: Tak Ada Bansos, Bertepatan Tahun Ajaran Baru

Tekanan ini datang di saat yang kurang ideal. Kelas menengah tidak memperoleh bantalan fiskal seperti kelompok miskin dan rentan yang menerima bansos atau BLT. Mereka harus menyerap sendiri kenaikan biaya hidup di tengah pendapatan yang cenderung stagnan.

Ditambah lagi, momen ini bertepatan dengan tahun ajaran baru yang biasanya meningkatkan pengeluaran rumah tangga untuk kebutuhan pendidikan. “Efek pendapatan atau income effect berupa penyusutan disposable income sangat terasa,” ujar Rahma.

Efek Rambatan ke Sektor Usaha: Ojek Daring hingga UMKM Kuliner

Meski Pertamax bukan bahan bakar utama logistik barang pokok yang umumnya menggunakan solar, kenaikan harganya tetap berdampak ke sektor tertentu. Rahma mencontohkan jasa kurir, pengemudi ojek daring, hingga UMKM kuliner yang menggunakan kendaraan pribadi untuk berbelanja bahan baku.

Jika kenaikan biaya operasional diteruskan ke konsumen akhir, harga barang dan jasa di tingkat ritel berpotensi naik. Hal ini bisa menambah tekanan terhadap inflasi inti dan menggerus daya beli riil rumah tangga secara lebih luas.

Inflasi Umum Diprediksi Terjaga, Tapi Ada Sinyal Kenaikan

Meski begitu, Rahma menilai dampak kenaikan Pertamax terhadap inflasi umum masih relatif terbatas. “Efek dominonya terhadap inflasi umum tetap terkendali karena bukan kenaikan pada sektor logistik. Walaupun ada kira-kira cuma 0,1 persen saja,” katanya.

Sektor transportasi umum dan logistik berat masih menggunakan BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar, sehingga tidak serta-merta memicu lonjakan inflasi nasional secara ekstrem.

Namun, Rahma memperkirakan inflasi Juni 2026 tetap dalam tekanan. “Dinamika sektor transportasi menjadi salah satu trigger utama yang berpotensi mendorong inflasi umum (CPI) merangkak naik hingga mendekati atau bahkan menembus kisaran 4 persen secara tahunan (yoy), meningkat dari posisi Mei yang berada di level 3,08 persen (yoy),” pungkasnya.

Reporter: Ahmad Syukri
Sumber: jambi.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top